
BREBES – Suasana pagi yang seharusnya tenang di Kampung Saditan, Kabupaten Brebes, mendadak berubah menjadi momen penuh kecemasan pada Sabtu (20/6/2026). Warga setempat dibuat gempar setelah mendapati dua remaja tengah berada di puncak tower seluler setinggi kurang lebih 50 meter.
Puluhan pasang mata warga dari bawah hanya bisa menatap ke atas dengan perasaan waswas. Ketakutan akan risiko remaja tersebut terpeleset atau jatuh dari ketinggian yang mengancam nyawa membuat warga segera menghubungi kepolisian melalui layanan 110. Petugas dari Polres Brebes dan tim Damkar pun bergerak cepat menuju lokasi.
Setibanya di lokasi, petugas menggunakan pendekatan persuasif untuk membujuk kedua remaja tersebut agar turun. Beruntung, setelah melalui proses komunikasi yang intens, keduanya akhirnya bersedia turun dengan selamat, mengakhiri ketegangan yang menyelimuti warga selama beberapa jam.
“Beruntung, tidak ada insiden yang menyebabkan keduanya terjatuh ataupun terluka. Setelah turun, petugas memberikan pembinaan dan edukasi mengenai risiko memanjat bangunan tinggi tanpa perlengkapan keselamatan,” ungkap petugas di lapangan.
Iseng Berujung Aksi Berbahaya
Setelah diperiksa, kedua remaja tersebut diketahui berinisial D (15) dan F (15). Keduanya merupakan pelajar SMA negeri di Brebes yang juga berstatus sebagai santri di salah satu pondok pesantren di kawasan Kampung Saditan.
Saat dimintai keterangan mengenai motif nekatnya, jawaban keduanya justru membuat banyak orang tercengang. Mereka mengaku aksi memanjat tower tersebut murni karena rasa penasaran atau iseng. Kejadian bermula saat mereka berjalan-jalan seusai salat Subuh di sekitar pondok. Melihat struktur tower yang menjulang, mereka memutuskan untuk melewati pagar pembatas dan terus memanjat hingga mencapai puncak.

Sempat Tertidur di Puncak Tower
Hal yang paling mengejutkan adalah pengakuan mereka mengenai durasi berada di atas tower. Keduanya mengaku berada di ketinggian 50 meter tersebut selama kurang lebih dua jam. Bahkan, mereka sempat memainkan klem kabel yang ada di sana dan tertidur pulas di atas struktur besi tower yang sempit.
Pihak kepolisian telah memberikan pembinaan keras kepada kedua santri tersebut. Aksi ini menjadi pengingat bagi pihak pondok pesantren maupun orang tua agar lebih intensif mengawasi aktivitas anak di luar jam belajar, terutama terhadap perilaku yang membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.





Tinggalkan Balasan