oleh

Pasien BPJS Bogor Meninggal Dunia Usai Dicibir Oknum Nakes

banner 468x60

BOGOR – Unggahan keluhan pelayanan rumah sakit kembali memakan korban jiwa. Kasus tragis menimpa Yurizal Tri Chaerawan, seorang pasien BPJS Bogor meninggal dunia pada 31 Juli 2026 usai menerima rentetan komentar sinis dari oknum tenaga kesehatan di media sosial Threads.

Kisah pilu ini bermula saat Yurizal mengunggah curahan hatinya pada 22 Juli 2026. Ia mengaku terpaksa menunggu hingga delapan jam di Instalasi Gawat Darurat (IGD) tanpa kepastian kamar perawatan.

banner 336x280

Bukannya mendapat simpati, tangkapan layar keluhannya justru memicu cibiran kasar dari sejumlah akun yang mengaku sebagai dokter dan perawat.

Korban Menangis Baca Komentar Jahat Oknum Nakes

Sahabat korban, Firhan Arief, membeberkan perjuangan berat Yurizal selama menjalani perawatan medis. Ia mendampingi korban yang harus menanti hasil CT Scan selama 48 jam dan tertahan dua hari di ruang IGD.

Baca Juga  Jalur Vital Bumiayu-Salem Ambles: Akses Transportasi Warga Brebes Selatan Terancam Putus Total

Firhan mengungkapkan bahwa kondisi emosional korban mendadak drop usai membaca komentar miring di Threads. Salah satu oknum perawat bahkan nekat menyarankan korban melukai diri sendiri agar bisa masuk ruang perawatan lebih cepat.

“Almarhum menangis dan sangat sedih membaca komentar-komentar jahat itu. Korban langsung mematikan ponselnya karena tidak sanggup menahan tekanan mental,” kata Firhan.

Peristiwa pasien BPJS Bogor meninggal dunia ini memicu gelombang kemarahan publik setelah kabar duka tersebut menyebar luas di media sosial.

Oknum Perawat Layangkan Permintaan Maaf

Sepupu korban, Hilda Aprianti, menegaskan bahwa Yurizal tidak pernah mengeluhkan sakitnya kepada keluarga. Korban murni memilih media sosial sebagai tempat mencurahkan rasa lelahnya.

Kecaman masif warganet akhirnya memaksa salah satu oknum perawat pengunggah komentar miring melayangkan permintaan maaf terbuka.

“Saya mengakui tulisan saya sangat tidak profesional dan menambah beban emosional keluarga almarhum,” ujar oknum perawat tersebut melalui akun pribadinya.

Tragedi pasien BPJS Bogor meninggal dunia ini menjadi tampar keras bagi etika profesi tenaga kesehatan di ruang digital. Pelayanan rumah sakit yang lambat memang masalah klasik, tetapi respons perundungan (cyberbullying) dari oknum nakes sangat tidak manusiawi. Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wajib mencabut izin praktik para pelaku agar menjaga integritas profesi medis di Indonesia.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *