
PANDEGLANG – Teka-teki mengenai temuan hewan melata di dalam wadah ompreng Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Dukuh 2, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, akhirnya menemui titik terang. Setelah sempat memicu kegemparan di jagat maya, pihak manajemen sekolah bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasanggrahan resmi melayangkan klarifikasi bersama.
Berdasarkan hasil koordinasi, penelusuran fisik, dan pencocokan visual, kedua belah pihak memastikan bahwa hewan yang terekam dalam video viral tersebut bukanlah cacing tanah, ulat buah, ataupun belatung seperti yang dituduhkan sebelumnya. Hewan tersebut diidentifikasi secara akurat sebagai seekor kelabang kecil atau yang oleh warga lokal akrab disebut lenyai.
Kepala SDN Dukuh 2 Munjul, Tedi, memaparkan bahwa berdasarkan kronologi di lapangan, kelabang kecil tersebut diduga kuat menyusup masuk akibat faktor kelengahan dalam prosedur penyimpanan sementara di lingkungan sekolah sebelum dibagikan ke ruang kelas.
“Setelah melakukan komunikasi dan penelusuran bersama, kami memastikan bahwa hewan yang ditemukan bukan berasal dari makanan yang dimasak. Hewan tersebut diduga sejenis kelabang kecil yang merayap dari bawah atau lantai menuju ompreng, bukan berasal dari menu yang disajikan,” terang Tedi secara objektif, Selasa (16/6/2026).
SPPG Turun ke Lapangan, Redam Kesalahpahaman Publik
Langkah cepat meluncur ke lapangan ini sengaja diambil oleh otoritas penyalur guna meredam spekulasi liar dan kepanikan massal di kalangan wali murid. Pemerintah daerah berkomitmen menjaga akuntabilitas program nasional ini agar tidak tercederai oleh misinformasi.
Kepala SPPG Pasanggrahan Munjul, A Gunaedi, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak sekolah yang bertindak kooperatif dalam mengurai benang kusut polemik higienitas ini. Klarifikasi terpadu ini dinilai krusial agar duduk perkara dipahami secara utuh oleh masyarakat luas.

“Kami langsung turun ke lapangan untuk memastikan informasi yang beredar. Komunikasi dengan pihak sekolah berjalan dengan baik. Klarifikasi yang disampaikan kepala sekolah menjadi bagian penting agar persoalan ini dipahami secara utuh dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat,” kata Gunaedi meluruskan.
Komitmen Perketat Pengawasan dari Hulu ke Hilir
Kendati terbukti bahwa kontaminasi tersebut bukan disebabkan oleh kelalaian higienitas di sektor dapur produksi, SPPG Pasanggrahan Munjul enggan jemawa. Insiden merayapnya kelabang kecil dari lantai sekolah ini tetap dijadikan sebagai tamparan keras untuk mengevaluasi rantai pasok.
Ke depan, pihak pengelola berjanji akan memperketat protokol pengawasan berlapis secara lebih radikal. Pengetatan ini mencakup tiga pilar utama:
-
Sektor Produksi: Sterilisasi bahan baku dan area memasak.
-
Sektor Pengemasan: Penguncian wadah ompreng agar kedap dari luar.
-
Sektor Distribusi: Penyusunan standar meja penyimpanan di sekolah agar makanan tidak lagi diletakkan langsung menyentuh ubin atau lantai.
“Tentu ini menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk meningkatkan kualitas layanan kepada sekolah penerima. Kami juga terbuka menerima masukan dari semua pihak agar pelayanan ke depan semakin baik,” pungkas Gunaedi optimis demi menjamin keamanan pangan para siswa di Pandeglang.








Tinggalkan Balasan