oleh

Dikepung El Nino dan IOD, Karhutla Lahan Gambut Sumatra Selatan Mengganas Hantui Tragedi Kabut Asap 2015

banner 468x60

PALEMBANG – Alarm darurat bencana ekologis berbunyi nyaring di wilayah Sumatra Selatan (Sumsel). Baru memasuki fase awal musim kemarau tahun 2026, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dilaporkan telah merebak secara masif di sejumlah wilayah. Ganasnya rembetan api dan keringnya vegetasi memicu kekhawatiran besar dari otoritas lingkungan bahwa bencana Karhutla tahun ini sangat berpotensi menyamai keparahan tragedi kabut asap global pada 2015 silam.

Berdasarkan analisis citra satelit kolaborasi Kementerian Kehutanan, BRIN, dan Kementerian Lingkungan Hidup, total luas lahan yang hangus terbakar di Sumsel sepanjang periode Januari hingga Juni 2026 telah menembus 664,87 hektare. Angka ini dipastikan terus meroket tajam seiring akumulasi titik api (hotspot) baru yang muncul tiada henti sepanjang bulan Juli.

banner 336x280

Titik Api Mulai Mengeruk Kedalaman Gambut OKI dan Ogan Ilir

Dari total luasan area yang terbakar, sebesar 642,30 hektare merupakan lahan mineral dan 22,37 hektare adalah lahan gambut. Meski angka gambut terlihat lebih kecil, namun indikator ini menunjukkan lonjakan ekstrem dibanding sepanjang tahun 2025 yang hanya mencatat 1,9 hektare lahan gambut terbakar.

Hingga pertengahan Juli 2026, amukan api dilaporkan sudah menyasar kawasan luar biasa kritis, yakni sabuk gambut dalam di Kabupaten Ogan Ilir dan wilayah Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Karakteristik kebakaran di wilayah ini menjadi momok paling menakutkan bagi tim pemadam.

“Di area gambut, meskipun api di permukaan tanah sudah berhasil dijinakkan, bara api tetap hidup dan merambat secara tersembunyi di bawah lapisan gambut hingga kedalaman lebih dari satu meter. Kondisi ini hanya memicu kepulan asap pekat ke udara, namun sewaktu-waktu bisa meledak menjadi kobaran api besar dan meluas secara tak terkendali,” urai Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto, Jumat (17/7/2026).

Potensi ancaman di Sumsel kian mengerikan mengingat wilayah ini memiliki cadangan gambut raksasa. Kabupaten OKI mengantongi lahan gambut seluas 640.000 hektare (70% dari luas wilayah), disusul Musi Banyuasin seluas 373.360 hektare, Banyuasin 252.706 hektare, serta Ogan Ilir seluas 63.503 hektare yang kini apinya mulai mengepung dan mengganggu jarak pandang di jalur Tol Palembang-Indralaya dan Indralaya-Prabumulih.

Puncak Kemarau Agustus–September: IOD Dorong Uap Air ke Afrika

Kondisi diperparah oleh rilis prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menegaskan bahwa durasi kemarau tahun 2026 akan jauh lebih panjang dan gersang akibat anomali iklim ganda. Selain penetrasi El Nino dengan intensitas sedang-kuat, semester kedua tahun ini juga dihantam fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Kombinasi El Nino dan IOD ini membuat uap air di atas Indonesia tersedot dan bergerak ke arah Samudera Hindia dan benua Afrika. Akibatnya, pada puncak kemarau Agustus dan September nanti, Hari Tanpa Hujan (HTH) di Sumsel diprediksi akan berlangsung sangat lama, memicu penyusutan drastis sumber air dan membuat lahan gambut berubah menjadi bahan bakar yang super-sensitif.

Kementerian Kehutanan menegaskan tidak ingin rapor merah sebelas tahun lalu terulang. Sebagai catatan, pada Karhutla 2015, luasan lahan yang terbakar di Sumsel mencapai 837.520 hektare. Saat itu, kabut asap beracun mengepung Asia Tenggara hingga memicu kecaman diplomatik dari Malaysia dan Singapura, melumpuhkan penerbangan akibat jarak pandang di bawah 50 meter, meliburkan sekolah, serta menyebabkan 3,5 juta warga mengidap ISPA masif.

Siaga I di 9 Wilayah, Korporasi Diminta Tidak Jadi Sumber Masalah

Merespons ancaman nyata ini, Gubernur Sumsel, Herman Deru, menyatakan bahwa pemerintah provinsi bersama sembilan kabupaten/kota rawan telah resmi menetapkan status Siaga Darurat Karhutla hingga Desember 2026. Sinergi ribuan personel gabungan dari Manggala Agni, TNI, Polri, Damkar, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) telah diterjunkan ke posko-posko tapak.

“Strategi penanganan Karhutla tahun ini dilakukan melalui tiga lapis komitmen: mitigasi ketat lewat patroli terpadu dan pengaktifan posko desa; penindakan respons cepat melalui water bombing udara; serta pemulihan ekosistem gambut,” tegas Herman Deru.

Deru juga melempar peringatan keras kepada masyarakat yang masih nekat membuka kebun dengan cara membakar lahan kosong secara ilegal. Tak hanya warga, gubernur juga menuntut dunia usaha di sektor kehutanan, perkebunan sawit, dan pertambangan untuk menyiagakan penuh Regu Pemadam Kebakaran (RPK) internal mereka. Korporasi diwajibkan menjaga konsesi masing-masing dan wajib menjadi bagian dari solusi, bukan justru menjadi sumber malapetaka Karhutla baru bagi Sumatra Selatan.

banner 336x280
Baca Juga  Kasus DBD di Lebak Tembus 391 Kasus, Dinkes Desak Gerakan 3M Plus

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *