
PANDEGLANG – Kondisi Sub Terminal Carita di Kabupaten Pandeglang, Banten, kian memprihatinkan. Fasilitas transportasi yang dibangun menggunakan alokasi APBD 2016 sebesar Rp2,3 miliar tersebut kini tampak lengang dan minim dari denyut aktivitas pelayanan publik maupun perekonomian warga.
Sejak dirancang pada 2016 dan diresmikan setahun setelahnya, kawasan ini awalnya diproyeksikan menjadi pusat transit angkutan umum sekaligus sentra ekonomi lokal. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya; tidak terlihat adanya pergerakan angkutan umum atau kegiatan naik-turun penumpang secara intensif.
Pantauan di lokasi mengindikasikan bahwa deretan fasilitas pendukung seperti kios pedagang di dalam area terminal juga terbengkalai. Sebagian besar ruang usaha tampak tertutup rapat, tidak beroperasi, dan tidak menunjukkan adanya geliat perdagangan.
Dampak minimnya fungsi terminal ini dikeluhkan oleh masyarakat setempat. Salah seorang warga Carita, Ibnu, mengonfirmasi bahwa suasana sepi di Sub Terminal Carita sudah berlangsung sejak lama dan terkesan tidak terurus.
“Kondisinya memang sepi terus, Kang. Tidak terlihat ada aktivitas seperti terminal pada umumnya. Kios-kios pedagang juga tutup semua, tidak ada yang mengisi dan seperti tidak terawat. Sangat disayangkan fasilitas yang dibangun dari uang negara miliaran rupiah justru dibiarkan mati suri,” tutur Ibnu, Minggu (9/8/2026).
Minimnya pemanfaatan aset daerah ini memicu kritik terkait efektivitas perencanaan dan pengelolaan infrastruktur transportasi di Pandeglang. Kendati demikian, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pandeglang, Rudiyanto, belum memberikan keterangan atau tanggapan resmi saat dihubungi untuk dikonfirmasi mengenai langkah optimalisasi Sub Terminal Carita tersebut.















Komentar