
INTERNASIONAL – Pemerintah Iran memberikan sinyal hijau bagi kapal-kapal tanker untuk melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia. Namun, izin tersebut diberikan dengan syarat khusus: seluruh transaksi perdagangan dan biaya jasa harus menggunakan mata uang Yuan China, bukan lagi Dollar AS.
Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis Teheran untuk memperkuat posisi mata uang Yuan sekaligus mempercepat proses de-dolarisasi di tengah tekanan sanksi ekonomi Barat yang masih membayangi negara tersebut.
Strategi De-Dolarisasi
Keputusan Iran ini bukan tanpa alasan. Penggunaan Yuan dianggap lebih aman bagi transaksi internasional mereka, mengingat hubungan erat antara Iran dan China dalam sektor energi. Dengan mengalihkan transaksi ke Yuan, Iran berharap dapat menjaga stabilitas aliran ekspor minyaknya tanpa terhambat oleh sistem keuangan yang didominasi Amerika Serikat.
Selat Hormuz sendiri merupakan “urat nadi” energi dunia, di mana sekitar seperlima dari total konsumsi minyak bumi dunia melintasi jalur sempit ini setiap harinya. Kebijakan ini diprediksi akan memberikan dampak signifikan bagi pasar energi global dan konstelasi ekonomi di kawasan Timur Tengah.
Respons Pasar Global
Sejumlah pengamat menilai bahwa persyaratan penggunaan Yuan ini akan memaksa banyak perusahaan pelayaran dan negara pengimpor minyak untuk menyesuaikan cadangan mata uang mereka. Di sisi lain, hal ini juga memperkuat posisi China sebagai mitra dagang utama di kawasan tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Gedung Putih terkait kebijakan terbaru Iran yang memperketat regulasi di jalur perairan internasional tersebut.







Tinggalkan Balasan