
SERANG – Dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai memberikan tekanan serius pada sektor kesehatan di Provinsi Banten. Harga obat-obatan, alat kesehatan, hingga bahan medis habis pakai yang sebagian besar masih bergantung pada impor, dilaporkan mengalami kenaikan harga hingga mencapai 20 persen.
Kondisi ini memaksa rumah sakit, khususnya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), untuk memutar otak agar pelayanan kepada pasien tidak terganggu. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini memang membebani operasional, meski ia menegaskan tidak semua jenis obat mengalami lonjakan yang sama.
“Pembelian obat di rumah sakit, terutama RSUD, sekarang sudah melalui konsolidasi dengan satu arahan dari Kementerian Kesehatan. Sejauh ini kenaikannya belum semuanya sampai 20 persen,” ujar Ati, Rabu (24/6/2026).
Strategi Bertahan: Inovasi Layanan dan Efisiensi
Menghadapi beban biaya operasional yang meningkat, Dinkes Banten mengeluarkan beberapa instruksi strategis bagi seluruh rumah sakit di bawah naungannya:
-
Pengembangan Layanan: Rumah sakit diminta untuk lebih kreatif dalam mengembangkan jenis layanan kesehatan. Ati menegaskan bahwa RS tidak boleh hanya terpaku pada target pendapatan yang ada, melainkan harus meningkatkan kualitas dan variasi layanan agar pendapatan bisa terdongkrak. “Kalau pendapatan meningkat, kemampuan membeli obat juga ikut meningkat,” tegasnya.
-
Kepatuhan Formularium Nasional: Seluruh rumah sakit diwajibkan menggunakan obat sesuai dengan Formularium Nasional. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah paling efektif untuk menekan pemborosan dan memastikan penggunaan obat tepat sasaran.
-
Penerapan Clinical Pathway: Selain penggunaan obat yang efisien, RS wajib menerapkan clinical pathway (alur klinis) untuk memastikan standar terapi berdasarkan jenis penyakit. Hal ini dilakukan guna menerapkan kendali mutu dan kendali biaya yang terukur.
Dorong Kemandirian Produk Dalam Negeri
Ati mengakui bahwa ketergantungan pada produk impor, mulai dari alat laboratorium hingga alat kesehatan, adalah kerentanan utama sektor kesehatan saat ini. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mulai beralih dan memperkuat ketahanan kesehatan nasional melalui penggunaan produk farmasi dan alat kesehatan buatan dalam negeri.
“Ketahanan kesehatan harus diperkuat lewat penggunaan produk dalam negeri,” tutup Ati. Langkah-langkah efisiensi yang ketat serta inovasi pada layanan diharapkan mampu menjaga keberlangsungan operasional rumah sakit di Banten tetap optimal di tengah fluktuasi ekonomi global.










Komentar