oleh

Putus Rantai Kemiskinan! Bupati Mitha Resmikan MPLS dan Cek Kesehatan Gratis di Sekolah Rakyat Terintegrasi Brebes

banner 468x60

BREBES – Pemerintah Kabupaten Brebes bersama Kementerian Sosial (Kemensos) nekat memulai aktivitas Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Brebes, Rabu (15/7/2026). Proyek pendidikan gratis untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu ini langsung memicu perhatian publik karena terkesan buru-buru.

Bagaimana tidak, pemerintah meluncurkan kegiatan ini saat Kementerian Pekerjaan Umum (PU) baru menyelesaikan 83,27 persen pembangunan fisik gedung sekolah.

banner 336x280

Bupati Mitha Pasang Target Tinggi, Minta Guru Tak Lembek

Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma (Mbak Mitha), langsung memberikan tekanan besar kepada para kepala sekolah dan tenaga pendidik. Ia menuntut para guru menerapkan disiplin baja dan tidak lembek dalam menempa mental para siswa baru.

“Saya titipkan anak-anak ini kepada Bapak Ibu sekalian. Jagalah mereka sebaik menjaga anak sendiri. Dampingi dengan ketegasan yang mendidik namun tetap dibalut kelembutan hati,” tegas Mitha.

Mitha mendesak pihak sekolah fokus membentuk karakter siswa yang tangguh agar mereka mampu mengubah nasib ekonomi dan mengangkat derajat keluarga. Menanggapi kecemasan para orang tua yang wajib melepas anak mereka ke sistem asrama, Mitha berjanji bahwa pemerintah daerah akan menjamin penuh seluruh kebutuhan logistik, keamanan, hingga fasilitas harian siswa.

Sebagai langkah awal, pemerintah juga menggelar pemeriksaan kesehatan gratis hari ini untuk memastikan kondisi fisik anak-anak tersebut siap menghadapi tekanan kurikulum berasrama.

Kemensos Andalkan Jalur Asrama untuk Putus Kemiskinan

Setali tiga uang, perwakilan Kemensos, Siti Indriasri Oktaviana, menyatakan bahwa pendirian SRT 1 Brebes ini mengemban misi berat sebagai senjata pemutus mata rantai kemiskinan ekstrem di wilayah Brebes.

Siti menjelaskan bahwa konsep Sekolah Rakyat ini menggabungkan sekolah formal, pelayanan sosial, dan pengembangan potensi diri dalam satu kawasan.

“Sekolah Rakyat adalah sekolah, adalah rumah, dan adalah masa depan bagi anak-anak yang selama ini mungkin merasa belum terjangkau layanan pendidikan terbaik,” ujar Siti.

Siasat Tiga Bulan di Tengah Sisa Proyek 17 Persen

Untuk mengakali fasilitas gedung yang belum selesai total, pengelola sekolah menerapkan siasat khusus. Selama tiga bulan ke depan, para siswa tidak langsung belajar penuh, melainkan wajib mengikuti tahapan MPLS, matrikulasi, dan pemetaan bakat terlebih dahulu.

Kemensos menargetkan seluruh kehidupan asrama dan kegiatan belajar-mengajar baru akan efektif berjalan pada akhir Juli 2026, sembari menunggu pihak kontraktor menuntaskan sisa 17 persen proyek vital seperti sanitasi dan air bersih.

Siti juga mengklaim bahwa asrama ini akan menerapkan sistem ramah anak yang bebas dari aksi perundungan (bullying) serta kekerasan. Selain kurikulum umum, para siswa nantinya akan mendapatkan pembekalan literasi digital, kepemimpinan, hingga edukasi antinarkoba.

Niat Mbak Mitha dan Kemensos menyelamatkan masa depan anak-anak miskin di Brebes memang patut kita apresiasi. Namun, kebijakan menjejalkan siswa ke dalam asrama yang pembangunannya baru menyentuh 83 persen jelas mengundang risiko. Pemkab Brebes berutang jaminan keselamatan; jangan sampai kenyamanan dan kesehatan anak-anak ini menjadi tumbal demi mengejar target seremonial belaka.

banner 336x280
Baca Juga  Bawa Nama Gunung Kaler, H. Cecep Saefullah Siap Berdakwah di Panggung Aksi Indosiar 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *