TEGAL – Konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kian memanas mulai memukul sektor ekonomi mikro di tanah air. Di Tegal, Jawa Tengah, para perajin tahu dan tempe kini berada di ambang keterpurukan akibat lonjakan harga kedelai impor asal Amerika Serikat yang menjadi bahan baku utama produksi mereka.

Hingga Kamis (02/04/2026), eskalasi ketegangan di Timur Tengah telah mengganggu rantai pasok global, yang berdampak langsung pada kenaikan biaya operasional industri rumah tangga di daerah.

Harga Kedelai Melonjak Tajam

Budiyanto, salah satu perajin tahu di Kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur, mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai impor terjadi sangat signifikan dalam waktu singkat.

“Harga kedelai impor asal Amerika kini dijual Rp 10.100 per kilogram, melonjak dari harga sebelumnya yang hanya Rp 8.600 per kilogram. Kami khawatir harga akan terus merangkak naik selama perang belum usai,” keluh Budiyanto.

Siasat Bertahan: Perkecil Ukuran

Kondisi ini memaksa para perajin memutar otak agar usaha mereka tidak mati total. Berbeda dengan tempe yang bahan bakunya masih bisa dicampur, produksi tahu sangat bergantung pada sari pati kedelai murni, sehingga kenaikan harga bahan baku tidak bisa dihindari dengan substitusi bahan lain.

Satu-satunya langkah yang diambil para perajin saat ini adalah dengan mengurangi ukuran atau dimensi tahu yang dijual ke masyarakat. Strategi ini dipilih untuk menekan biaya produksi tanpa harus menaikkan harga jual secara ekstrem yang berisiko membuat konsumen lari.

Ancaman Keberlangsungan Usaha

Industri tahu di Tegal, yang telah menjadi sandaran hidup banyak keluarga selama bertahun-tahun, kini menghadapi ancaman nyata. Jika harga kedelai terus membumbung tinggi, banyak pabrik tahu skala kecil diprediksi tidak akan mampu bertahan dan terpaksa gulung tikar.

Para perajin sangat berharap pemerintah segera turun tangan untuk menjaga stabilitas harga kedelai di tingkat lokal atau menyediakan subsidi bagi pelaku UMKM. Mereka juga menaruh harapan besar agar konflik global tersebut segera mereda sehingga iklim usaha kembali kondusif.