oleh

Kalah Saing dan Terkubur di Gang Sempit: SDN Negarayu 2 Brebes Kian Sekarat, Dua Tahun Hanya Dapat 3 Murid Baru

banner 468x60

BREBES – Lonceng kematian bagi eksistensi sekolah dasar negeri di wilayah pedesaan kembali berbunyi nyaring. Nasib memprihatinkan kali ini menimpa SDN Negarayu 2 yang terletak di Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sekolah plat merah ini dilaporkan kian sekarat dan berada di ujung tanduk setelah selama dua tahun ajaran berturut-turut hanya mampu menjaring tiga orang siswa baru.

Fenomena ini menjadi sinyal merah runtuhnya minat masyarakat lokal sekaligus tantangan krusial bagi kelangsungan masa depan institusi pendidikan formal di desa tersebut.

banner 336x280

Total Siswa 6 Kelas Hanya 40 Anak: Kalah Telak dari Madrasah Tetangga

Memasuki Tahun Ajaran baru 2026/2027, ruang kelas I di SDN Negarayu 2 tampak sunyi senyap karena hanya dihuni oleh tiga murid saja, yang terdiri atas dua siswa laki-laki dan satu siswi perempuan. Ironisnya, jumlah minim ini sama persis dengan rapor penerimaan pada tahun ajaran sebelumnya.

Penyusutan jumlah pendaftar yang terjadi secara ekstrem ini membuat akumulasi seluruh peserta didik dari Kelas 1 hingga Kelas 6 di SDN Negarayu 2 kini tergerus drastis hingga hanya menyisakan 40 anak.

Guru Kelas 2 SDN Negarayu 2, Nur Abdullah, membeberkan bahwa penurunan animo pendaftar sebetulnya sudah merayap hampir setiap tahun. Namun, dalam periode dua tahun terakhir, kondisinya melonjak ke tahap yang sangat mengkhawatirkan.

“Dua tahun ini memang minim sekali. Dua tahun berturut-turut kami hanya mendapatkan masing-masing tiga siswa,” keluh Nur Abdullah saat dikonfirmasi di lingkungan sekolah, Selasa (14/7/2026).

Faktor sosiologis dan geografis dituding menjadi biang kerok hancurnya daya saing sekolah. Selain kuantitas anak usia sekolah di Desa Negarayu yang relatif sedikit, SDN Negarayu 2 dipaksa terlibat “perang dingin” perebutan murid dengan dua lembaga pendidikan lain di desa yang sama, yakni SDN Negarayu 1 dan sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta.

Tensi persaingan kian mencekik karena tata letak gedung MI berdiri sangat mepet dengan SDN Negarayu 2, yakni berjarak kurang dari 50 meter. Hasilnya tragis, pada tahun ajaran ini SDN Negarayu 1 sukses mengamankan 14 siswa baru dan MI tetangga mendulang 23 siswa baru, meninggalkan SDN Negarayu 2 sendirian di garis belakang.

Akses Terisolasi Gang 2,5 Meter dan Kursi Kepala Sekolah yang Merangkap

Ketertinggalan SDN Negarayu 2 juga diperparah oleh aspek sarana prasarana yang terlampau sederhana. Walau secara legalitas memiliki aset berupa tiga bangunan utama (ruang kelas, kantor, dan gedung perpustakaan) serta fasilitas MCK, penampilan fisik sekolah dinilai kurang menjual dan tidak mencolok.

Sekolah dasar negeri ini bahkan belum memiliki gerbang utama yang layak sebagai identitas formal. Akses satu-satunya menuju lingkungan sekolah harus merayap melalui sebuah gang sempit pemukiman warga dengan lebar hanya sekitar 2,5 meter. Walau secara administratif berada di jalur utama desa, wajah sekolah ini luput dari pandangan mata publik.

Tata kelola manajemen sekolah pun tampak pincang. Hingga saat ini, posisi kepala sekolah definitif masih lowong, sehingga manajemen terpaksa dipimpin oleh kepala sekolah titipan yang merangkap jabatan di sekolah lain. Beruntung, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) harian digaransi tetap bergulir normal berkat dedikasi total tujuh tenaga pendidik yang menolak menyerah pada keadaan.

Potret darurat di Tonjong ini menjadi tamparan keras bagi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Brebes untuk segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh, rekonstruksi zonasi, atau melakukan langkah merger (penggabungan) agar aset negara tidak mubazir dan nasib para guru tidak telantar dalam sepi.

banner 336x280
Baca Juga  Dapur MBG SPPG Panimbangjaya 06 Utamakan Kualitas Nutrisi dan Cita Rasa bagi Penerima Manfaat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *