
JAKARTA – Nilai tukar Rupiah kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan pasar keuangan Selasa, 29 September 2026.
Merujuk data Bloomberg, Rupiah pada Selasa pagi dibuka di posisi Rp18.001 per dolar AS. Posisi ini melemah 23 poin atau setara 0,13 persen dibandingkan penutupan pekan lalu yang berada di level Rp17.978 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman, menyebut tekanan terhadap Rupiah masih disebabkan faktor eksternal, terutama ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral AS.
“Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan imbal hasil obligasi AS yang terus meningkat,” ujar Lukman saat dihubungi Suara.com.
Menurut Lukman, pelemahan Rupiah juga dipicu sikap hati-hati investor. Pasalnya, pekan ini agenda data ekonomi cukup padat dan berpotensi memberi tekanan tambahan.
“Ada agenda yang padat dengan data ekonomi penting, dengan trader menantikan rilis data pekerjaan AS JOLTS malam ini. Rupiah bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.050,” jelasnya.
Tekanan tidak hanya dirasakan Rupiah. Mayoritas mata uang di Asia juga cenderung melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini.
Baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,18 persen. Diikuti dolar Taiwan yang terkoreksi 0,11 persen, dolar Singapura tertekan 0,05 persen, ringgit Malaysia dan yen Jepang sama-sama tergelincir 0,04 persen, serta won Korea Selatan melemah tipis 0,007 persen.
Sementara itu, hanya beberapa mata uang yang mampu menguat. Peso Filipina menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah naik 0,21 persen. Disusul yuan China yang menguat 0,06 persen dan dolar Hong Kong yang naik tipis 0,008 persen.














Komentar