JAKARTA – Eskalasi konflik bersenjata antara Iran melawan agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai berdampak pada stabilitas harga kebutuhan global. Tak hanya energi, harga alat kontrasepsi (kondom) diprediksi akan mengalami kenaikan signifikan akibat terganggunya rantai pasok bahan baku dan jalur distribusi laut.

Produsen kondom terbesar di dunia asal Malaysia, Karex, memberikan peringatan bahwa situasi perang ini telah menciptakan kerentanan yang serius dalam proses produksi mereka.

Kenaikan Harga 20-30 Persen

CEO Karex, Goh Miah Kiat, mengungkapkan bahwa perusahaan kemungkinan besar terpaksa melakukan penyesuaian harga jual produk mereka dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan oleh lonjakan biaya produksi dan logistik yang dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah tersebut.

“Situasinya jelas sangat rapuh, harga mahal. Kami tidak punya pilihan selain membebankan biaya tersebut kepada pelanggan,” ujar Goh dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).

Goh memperkirakan kenaikan harga di tingkat konsumen bisa mencapai 20 persen hingga 30 persen. Kenaikan ini dinilai sulit dihindari mengingat biaya operasional yang terus membengkak.

Rantai Pasok Terganggu di Laut

Selain kenaikan harga bahan baku, gangguan jalur pelayaran menjadi kendala utama. Banyak komoditas kondom yang kini tertahan di kapal-kapal pengirim karena rute pelayaran yang tidak aman atau terhambat oleh blokade dan gangguan militer.

“Kami melihat banyak kondom tertahan di kapal yang belum sampai ke tujuan, padahal produk tersebut sangat dibutuhkan oleh pasar global,” tambahnya.

Meski demikian, Karex menyatakan bahwa saat ini perusahaan masih memiliki cadangan stok untuk mencukupi kebutuhan pasar selama beberapa bulan ke depan. Namun, jika perang terus berlanjut, krisis pasokan tidak dapat dihindari.

Imbas Lonjakan Harga Energi

Meletusnya perang antara Iran dan invasi AS-Israel juga secara langsung memicu kenaikan harga minyak dan gas dunia. Para ekonom menyatakan kekhawatiran bahwa inflasi energi ini akan menekan daya beli masyarakat secara luas, yang pada akhirnya memengaruhi konsumsi barang-barang kebutuhan sehari-hari, termasuk alat kesehatan dan kontrasepsi.

Kondisi ini menambah daftar panjang tantangan ekonomi global yang harus dihadapi di tengah ketidakpastian situasi geopolitik dunia tahun 2026.