oleh

Rapor Merah KFC Indonesia 2025: Rugi Bersih Rp 366 Miliar dan Penutupan 25 Gerai

banner 468x60

JAKARTA – Pemegang lisensi restoran cepat saji KFC di Indonesia, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), masih belum beranjak dari zona merah sepanjang tahun 2025. Berdasarkan laporan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan mencatatkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 366,04 miliar.

Meskipun masih merugi, angka tersebut menunjukkan tren perbaikan dibandingkan kerugian pada periode tahun 2024 yang mencapai Rp 796,71 miliar.

banner 336x280

Pendapatan Stagnan di Tengah Efisiensi

Pendapatan perseroan terpantau cenderung jalan di tempat. Sepanjang tahun 2025, KFC membukukan pendapatan sebesar Rp 4,88 triliun, naik tipis dari capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4,87 triliun.

Baca Juga  Bahlil Lahadalia: Importir Bakal Sakit Perut, RI Setop Impor Solar Mulai 2026!

Di sisi lain, manajemen FAST tampak berupaya keras melakukan efisiensi. Hal ini terlihat dari penurunan beban pokok penjualan yang berhasil ditekan menjadi Rp 1,99 triliun, turun dari angka sebelumnya sebesar Rp 2,03 triliun. Namun, upaya penghematan ini belum cukup untuk membawa perseroan mencetak laba bersih.

Penutupan Puluhan Gerai

Langkah efisiensi tidak hanya dilakukan pada beban operasional, tetapi juga menyentuh aspek restrukturisasi aset. Hingga akhir Desember 2025, FAST tercatat mengoperasikan 690 gerai restoran KFC.

Jumlah ini menyusut signifikan dibandingkan posisi akhir tahun 2024 yang memiliki 715 gerai. Artinya, terdapat 25 gerai KFC yang telah berhenti beroperasi sepanjang tahun lalu sebagai bagian dari langkah strategis perseroan menghadapi tantangan bisnis.

Baca Juga  Diduga Langgar Aturan Impor, Bea Cukai Segel 3 Toko Perhiasan Mewah di Mall Jakarta

Posisi Keuangan Perseroan

Ditinjau dari sisi neraca keuangan, total aset KFC hingga akhir 2025 tercatat sebesar Rp 4,94 triliun. Sementara itu, liabilitas atau kewajiban perseroan berada di angka Rp 4,51 triliun dengan posisi ekuitas sebesar Rp 435,85 miliar.

Kondisi keuangan ini menggambarkan tantangan berat yang dihadapi industri Food & Beverage (F&B) di tanah air, mulai dari perubahan gaya hidup konsumen hingga ketatnya persaingan harga di pasar makanan cepat saji. Publik kini menanti strategi transformasi FAST untuk kembali ke jalur profitabilitas di tahun 2026.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *