
STOCKHOLM – Raksasa ritel fashion asal Swedia, H&M (Hennes & Mauritz), membawa kabar mengejutkan bagi industri mode global. Perusahaan secara resmi mengumumkan rencana untuk menutup ratusan gerainya secara permanen di seluruh dunia sepanjang tahun 2026.
Langkah drastis ini diambil sebagai respons terhadap pergeseran perilaku konsumen yang kini lebih memilih berbelanja secara daring (online). Selain itu, tekanan ekonomi global dan meningkatnya persaingan dari platform fast-fashion digital disebut menjadi pendorong utama di balik keputusan tersebut.
Pihak manajemen H&M menyatakan bahwa penutupan gerai fisik ini merupakan bagian dari strategi transformasi besar-besaran untuk mengoptimalkan portofolio toko dan memperkuat kehadiran mereka di pasar e-commerce. Lokasi yang akan ditutup umumnya adalah toko yang memiliki kinerja penjualan di bawah target atau berada di kawasan dengan biaya operasional yang tidak lagi kompetitif.
“Fokus kami saat ini adalah menyesuaikan jumlah toko fisik dengan kebutuhan masa depan. Kami melihat pertumbuhan yang sangat pesat pada kanal digital, sehingga investasi akan lebih banyak dialihkan ke arah sana,” ungkap perwakilan perusahaan dalam keterangannya.
Meski demikian, H&M belum merinci daftar negara mana saja yang akan terdampak paling besar. Keputusan ini diprediksi akan berdampak pada ribuan tenaga kerja di sektor ritel, meskipun perusahaan berjanji akan memberikan dukungan transisi bagi karyawan yang terdampak.

Penutupan ratusan toko ini menjadi sinyal kuat bahwa fenomena “ritel kiamat” masih menghantui merek-merek besar dunia, memaksa mereka untuk bergerak lebih lincah di tengah gempuran teknologi digital.









Tinggalkan Balasan