BATURAJA – Gelombang protes masyarakat ring satu terhadap korporasi kembali membara di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Ratusan massa yang tergabung dalam aksi damai Masyarakat Desa Pusar, Kecamatan Baturaja Barat, kembali turun ke jalan dan mengepung area operasional PT Semen Baturaja (PTSB) pada Rabu (10/6/2026).

Aksi ini merupakan kelanjutan dari aksi damai serupa yang sebelumnya telah diluncurkan warga pada Senin (18/5/2026) lalu. Belum adanya titik temu dan realisasi konkret dari pihak manajemen perusahaan dituding menjadi pemantik utama massa kembali menyuarakan aspirasinya secara terbuka.

Dalam orasi yang bergelora di depan gerbang pabrik, massa secara tegas menuntut kepatuhan perusahaan dalam memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal bagi masyarakat Desa Pusar, yang selama ini berdampingan langsung dengan dampak operasional industri semen tersebut.

Komitmen Manajemen Dipertanyakan

Aksi unjuk rasa yang berulang ini menyingkap tabir ketidakharmonisan hubungan antara korporasi dan lingkungan sekitar. Sepanjang kurun waktu tahun 2025 hingga pertengahan 2026, PT Semen Baturaja tercatat kerap dihantam gelombang demonstrasi dari masyarakat wilayah penyangga.

Kondisi tersebut memicu pertanyaan besar di kalangan warga mengenai keberadaan dan itikad baik top manajemen dalam menyelesaikan konflik sosial yang berlarut-larut. Perlakuan perusahaan yang dinilai tidak adil memicu akumulasi rasa ketidakpuasan yang mendalam di tingkat akar rumput.

“Kami mempertanyakan kemana manajemen selama ini? Mengapa persoalan pemenuhan hak warga lokal selalu buntu dan memicu demo yang berulang dalam dua tahun terakhir ini,” teriak salah satu koordinator aksi dalam orasinya, Rabu (10/6/2026).

Karyawan Dalam Saja Abai, Apalagi Warga Luar

Ketimpangan tata kelola internal perusahaan juga turut disorot oleh para pendemo sebagai indikator buruknya kepedulian sosial PT Semen Baturaja. Berdasarkan informasi dan keluhan yang dihimpun dari lingkaran dalam, nasib kesejahteraan karyawan yang aktif bekerja di dalam pabrik saja dinilai kurang mendapatkan perhatian yang layak dari manajemen.

Kondisi internal tersebut menguatkan pesimisme warga desa yang berada di luar pagar perusahaan untuk bisa mendapatkan hak ekonomi secara adil tanpa adanya tekanan massa.

“Sederhananya begini, para pekerja yang berada di dalam saja (karyawan) kurang diperhatikan hak dan kesejahteraannya oleh manajemen, apalagi nasib kami masyarakat lokal yang berada di luar pagar ini,” cetus perwakilan pendemo dengan nada kecewa.

Hingga berita ini diturunkan, aksi damai tersebut berjalan dengan pengawalan ketat dari aparat keamanan guna mengantisipasi tindakan anarkis. Perwakilan massa mendesak jajaran direksi PT Semen Baturaja untuk segera duduk bersama dan menandatangani nota kesepakatan tertulis terkait kuota pekerja lokal demi menjaga kondusivitas wilayah industri di Kabupaten OKU.