
LEBAK – Ketimpangan pembangunan infrastruktur masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat di pelosok Kabupaten Lebak, Banten. Warga Kampung Padasuka, Desa Kadudamas, Kecamatan Cirinten, kini kompak menyuarakan protes keras akibat kondisi jalan lingkungan sepanjang kurang lebih 3 kilometer di wilayah mereka yang mengalami kerusakan sangat parah. Ironisnya, pembiaran ini terkesan dipelihara tanpa adanya tanda-tanda intervensi perbaikan dari pemerintah.
Akses jalan yang hancur lebur tersebut merupakan urat nadi utama yang menghubungkan pemukiman warga dengan pusat ekonomi. Absennya pengaspalan membuat hak mobilitas dasar masyarakat sipil di kawasan ini terpasung.
Musim Kemarau Dikepung Batu Tajam, Musim Hujan Berubah Jadi Kubangan Lumpur
Edi, salah seorang warga lokal yang merasakan langsung dampak buruk infrastruktur bobrok ini, membeberkan bahwa penderitaan warga sudah berlangsung menahun. Baik Pemerintah Desa Kadudamas maupun Pemerintah Kabupaten Lebak dinilai menutup mata dan telinga dari keluhan masyarakat bawah.
Kondisi jalur ini menyajikan bahaya yang ekstrem di dua musim yang berbeda:
-
Saat Musim Kemarau: Badan jalan berubah menjadi ladang debu pekat yang mengancam kesehatan pernapasan, diperparah dengan berserakannya batu-batu tajam berukuran besar yang siap merobek ban kendaraan serta memicu kecelakaan.
-
Saat Musim Hujan: Jalur ini berubah drastis menjadi kubangan lumpur yang becek, licin, dan melekat. Kondisi ini sangat mematikan di titik-titik jalan yang memiliki kontur turunan tajam, di mana puluhan pengendara motor dilaporkan kerap tergelincir jatuh.
“Kondisi jalan yang rusak ini sangat mengganggu aktivitas masyarakat, mulai dari berangkat bekerja, anak-anak pergi ke sekolah, hingga menghambat distribusi hasil pertanian dan perdagangan. Saat kemarau banyak debu dan batu tajam. Di musim hujan lebih parah, jalan becek, licin, dan turunan tajam, sangat berbahaya untuk dilalui warga,” keluh Edi dengan nada getir kepada awak media, Minggu (12/7/2026).
Sindiran Menohok Warga ke Pemerintah: Kami Berasa Belum Merdeka!
Dampak dari rusaknya jalur sepanjang 3 kilometer ini memukul telak sektor ekonomi lokal. Para petani kesulitan mengeksploitasi dan mendistribusikan komoditas pertanian serta barang dagangan keluar daerah karena ongkos angkut kendaraan melonjak akibat medan jalan yang ekstrem.
Mewakili suara hati ratusan kepala keluarga di Kampung Padasuka, Edi mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Bupati Lebak untuk segera turun ke lapangan melakukan pengaspalan atau pembetonan secara menyeluruh, bukan sekadar memberikan janji manis atau penambalan tanah ala kadarnya.
Edi bahkan melayangkan kritik dan sindiran sosial yang sangat menohok kepada jajaran birokrasi yang memimpin daerah tersebut.
“Semoga pemerintah tidak menutup mata dengan kondisi jalan di desa kami. Mohon segera dilakukan perbaikan demi kelancaran aktivitas dan keselamatan masyarakat yang sangat bergantung pada jalan ini. Kami berasa belum merdeka,” pungkasnya mengakhiri keluh kesah.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Cirinten masih menunggu respons konkret dan realisasi anggaran dari Pemkab Lebak untuk membebaskan mereka dari isolasi infrastruktur yang menyengsarakan tersebut.




















Komentar