oleh

Dikepung Truk Raksasa dan Debu Pekat, Jalur Pulogadung–Cakung Jadi Titik Macet Horor Tiap Jam Kerja

banner 468x60

JAKARTA TIMUR – Ruas Jalan Raya Pulogadung menuju Cakung, Jakarta Timur, kini bertransformasi menjadi jalur neraka yang dikeluhkan secara masif oleh para pengguna jalan. Kemacetan parah dan kesemrawutan kronis konsisten menyergap kawasan industri dan komersial tersebut setiap hari, terutama pada waktu-waktu krusial seperti jam masuk dan pulang kerja.

Absennya ketegasan regulasi di lapangan membuat mobilitas kaum komuter tercekik di antara kepulan debu pekat dan deretan kendaraan bertonase besar.

banner 336x280

Antrean Truk Kontainer Pemburu BBM Jadi Biang Kerok

Kondisi carut-marut di koridor utama Jakarta Timur ini dikonfirmasi langsung oleh para pengendara yang saban hari terpaksa melintasi rute tersebut. Salah seorang pengendara sepeda motor yang menolak identitasnya dipublikasikan membeberkan bahwa akar masalah kemacetan bukan sekadar lonjakan volume kendaraan pribadi, melainkan adanya pembiaran aktivitas kendaraan berat di jam sibuk (rush hour).

Ia mengungkapkan, situasi lalu lintas berubah menjadi horor pada sore hari lantaran puluhan truk tronton dan kontainer berukuran raksasa mengular di badan jalan. Truk-truk tersebut sengaja mengantre secara ugal-ugalan untuk mendapatkan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina setempat.

“Di jalan kerap terjadi macet parah. Selain volume motor dan mobil aktivitas pulang kerja yang membeludak, diperparah lagi oleh mobil truk dan kontainer besar yang antre BBM di salah satu pom bensin Pertamina,” keluhnya dengan nada kesal.

Botol Leher (Bottleneck) dan Minimnya Nyali Petugas di Lapangan

Selain menjadi pangkalan antrean truk raksasa, keberadaan pom bensin tersebut diperparah secara geometris karena posisinya berada tepat di titik penyempitan jalan (bottleneck). Aliran kendaraan yang semula lebar mendadak menyempit secara drastis, memicu efek domino kemacetan hingga berkilo-kilometer ke belakang.

Kondisi ini kian semrawut akibat lemahnya fungsi pengawasan dan pengaturan lalu lintas dari dinas terkait. Pada jam-jam kritis di mana gesekan antarkendaraan berada di titik tertinggi, keberadaan petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) maupun Satlantas wilayah Jakarta Timur dilaporkan sangat minim.

“Pom bensin itu merupakan titik penyempitan jalan. Minimnya petugas di lapangan membuat situasi jalan jadi makin macet dan semrawut. Ditambah lagi dengan polusi udara berupa debu pekat yang sangat kurang sehat untuk pernapasan,” tambah pemotor tersebut.

Hingga saat ini, para pengguna jalan mendesak agar Pemprov DKI Jakarta dan Satlantas Polres Metro Jakarta Timur segera turun tangan. Masyarakat menuntut adanya pembatasan jam operasional pengisian BBM bagi truk bertonase besar di jalur utama pada jam sibuk, serta penempatan personel secara permanen guna mengurai simpul kemacetan yang merenggut waktu dan kesehatan warga tersebut.(red)

banner 336x280
Baca Juga  Jadi Tempat Jemur Baju dan Kolam Lumut: Wajah Alun-alun Ciruas Miris di Tengah Amunisi Puspemkab Serang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *