
BERAU – Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kini menghadapi tantangan mendasar bagi ketahanan pangannya: regenerasi petani yang terancam mandek. Untuk mengatasinya, Pemerintah Kabupaten Berau menggandeng pihak swasta melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai jalan keluar mencetak generasi petani muda yang tangguh. Namun, pertanyaan mendasar tetap mengemuka: apakah skema ini mampu menjawab akar masalah, atau hanya menjadi cara mengemas masalah lama?
“Pencetakan petani muda tangguh ini bertujuan mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan, agar Berau tidak terus bergantung pada pasokan bahan pangan dari daerah lain,” ujar Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Berau, Tentram Rahayu, di Tanjung Redeb, Kamis.
Data per akhir 2025 memperlihatkan gambaran yang mengkhawatirkan. Dari total 17.842 petani terdaftar, sebanyak 40,4 persen atau 7.216 orang berusia antara 46–60 tahun, sementara 16,6 persennya bahkan sudah berusia di atas 60 tahun. Sementara itu, generasi muda di bawah usia 30 tahun baru menyumbang 12,3 persen atau hanya 2.195 orang dari keseluruhan tenaga tani. Kondisi ini mempertegas tren penuaan tenaga kerja pertanian yang bisa mengancam ketersediaan pangan jangka panjang.
Faktor utamanya sudah jelas: minat generasi muda untuk terjun ke sektor ini dinilai masih sangat rendah. Padahal, selama ini sektor pertanian kerap dicap sebagai pekerjaan berat, berpenghasilan tidak menentu, dan kurang diminati dibandingkan sektor lain yang dianggap lebih modern.
Untuk memutus rantai itu, Pemkab Berau menjalin kerja sama dengan PT Pamapersada Nusantara (PAMA). Keduanya telah menggelar rapat koordinasi guna menyusun rencana pelaksanaan program, dengan harapan pertanian dipandang sebagai bidang usaha yang menguntungkan dan memiliki prospek masa depan.
Namun, langkah ini menyisakan catatan kritis. Mengandalkan skema TJSL perusahaan swasta kerap menimbulkan pertanyaan: seberapa berkelanjutan program ini jika dukungan dari perusahaan berakhir? Apakah hanya sebatas pelatihan dan sosialisasi, atau disertai kemudahan akses lahan, modal, hingga teknologi yang benar-benar dibutuhkan pemula? Tanpa kepastian keberlanjutan dan dukungan kebijakan yang terstruktur, upaya mencetak petani muda bisa kembali menjadi wacana yang tidak menyentuh akar persoalan.
“Program ini diharapkan menjadi solusi menjaga ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Rahayu.
Janji manis itu tinggal menunggu bukti nyata. Tantangan terbesarnya bukan sekadar menarik minat, melainkan memastikan generasi muda itu bertahan dan berkembang di sektor pertanian dalam jangka panjang.













Komentar