
PEMALANG – Pemandangan memprihatinkan sekaligus berbahaya tersaji di sepanjang jalan utama Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang. Infrastruktur yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi kini berubah wujud menjadi deretan “kubangan maut” yang mengancam keselamatan warga setiap harinya.
Kondisi jalan yang hancur lebur ini tak pelak memicu gelombang protes keras dari masyarakat. Warga menuding Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pemalang dan para wakil rakyat di DPRD seolah menutup mata dan telinga terhadap penderitaan yang sudah berlangsung berbulan-bulan ini.
Ironi di Balik Kursi Empuk Legislatif
Ketajaman kritik warga bukan tanpa alasan. Ironisnya, Kecamatan Ulujami memiliki perwakilan di kursi pimpinan DPRD Pemalang. Namun, keberadaan “orang kuat” di jajaran legislatif tersebut dianggap tidak memberikan dampak nyata bagi perbaikan infrastruktur di daerah pemilihannya sendiri.
“Kami seperti anak tiri di tanah sendiri. Janji-janji saat kampanye seolah menguap begitu saja setelah mereka duduk di kursi empuk. Jalan ini bukan sekadar rusak, tapi sudah tidak layak disebut jalan,” ujar salah seorang warga dengan nada geram, mengacu pada lambatnya respon pemerintah.
Rob dan Cuaca: Alasan Klasik yang Membosankan
Pemkab Pemalang seringkali berlindung di balik alasan cuaca ekstrem dan fenomena banjir rob yang mempercepat kerusakan aspal. Namun bagi warga, alasan tersebut sudah basi. Masyarakat menilai tidak adanya solusi teknis yang permanen dan berkualitas menunjukkan rendahnya kompetensi serta komitmen pemerintah dalam mengelola anggaran infrastruktur.

Bukan sekadar menghambat mobilitas, lubang-lubang dalam yang tertutup air saat hujan atau rob telah memakan korban. Laporan mengenai pengendara sepeda motor yang terperosok hingga mengalami luka-luka sudah menjadi konsumsi harian warga setempat.
Desakan Aksi Nyata, Bukan Sekadar Janji
Warga kini menuntut aksi nyata, bukan sekadar kunjungan lapangan atau pernyataan normatif di media massa. Masyarakat mendesak agar Pemkab segera mengalokasikan anggaran darurat untuk perbaikan permanen, bukan sekadar tambal sulam yang hanya bertahan hitungan minggu.
Jika dalam waktu dekat tidak ada alat berat yang turun ke lokasi, warga mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar sebagai bentuk mosi tidak percaya terhadap kinerja Pemkab dan DPRD Pemalang yang dianggap gagal memenuhi hak dasar rakyat atas infrastruktur yang aman dan layak.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah konkret yang terlihat di lapangan. Rakyat Ulujami masih harus bersabar di atas jalanan yang hancur, sembari terus bertanya: Kapan pemerintah benar-benar hadir untuk mereka?






Tinggalkan Balasan