BANYUMAS – Kontras yang mencolok kembali terpampang nyata di perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di tengah klaim keberhasilan pembangunan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Jawa Tengah tampaknya masih betah dengan gaya lama: pembangunan reaktif dan minimalis.

Hal ini terlihat jelas dalam unggahan viral akun Facebook Ahmad Rosi yang memperlihatkan aktivitas penambalan jalan di jalur provinsi wilayah Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Meski terlihat ada upaya perbaikan, namun langkah “tambal sulam” ini dinilai sebagai bukti nyata ketertinggalan standar infrastruktur Jateng dibandingkan provinsi tetangga, Jawa Barat.

Infrastruktur “Gali Lubang Tutup Lubang”

Jalur Purwokerto menuju Ajibarang merupakan urat nadi logistik penting. Namun, alih-alih mendapatkan overlay (pengaspalan ulang) menyeluruh seperti yang jamak dilakukan di jalur provinsi Jawa Barat, warga Pageraji harus puas hanya dengan penutupan lubang-lubang kecil menggunakan alat berat seadanya.

Kritik tajam pun bermunculan:

  • Standar Kualitas Rendah: Penambalan aspal secara parsial di Pageraji hanya bertahan hingga hujan besar berikutnya datang. Ini adalah pemborosan anggaran negara yang dilakukan berulang-ulang tanpa solusi permanen.

  • Kesenjangan Visual: Pengendara yang melintas dari arah Jawa Barat akan langsung merasakan perbedaan kualitas jalan saat memasuki wilayah Jawa Tengah. Jika Jabar berlari dengan aspal mulus dan marka jalan neon, Jateng masih berkutat dengan aspal bergelombang bekas tambalan.

  • Ekspektasi Masyarakat yang Rendah: Munculnya komentar “Alhamdulillah” dari warga seperti Andi Jolma Rham menunjukkan betapa rendahnya ekspektasi masyarakat terhadap pemerintah. Masyarakat seolah sudah merasa sangat bersyukur hanya karena lubang jalan ditutup, sebuah hal yang seharusnya menjadi layanan dasar, bukan “prestasi”.

Kemana Anggaran Infrastruktur Jateng?

Kesenjangan ini memicu pertanyaan besar bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Mengapa manajemen aset jalan di wilayah Banyumas dan sekitarnya terkesan dianaktirikan dibandingkan wilayah di sekitar ibu kota provinsi?

“Jangan sampai kita hanya bangga dengan pertumbuhan ekonomi di atas kertas, tapi rakyat di lapangan harus bertaruh nyawa setiap hari melewati jalan yang penuh tambalan,” ujar pengamat kebijakan publik setempat.

Pengerjaan di titik Pageraji, Cilongok ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi dinas terkait. Jika Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak segera mengubah pola pembangunan dari “tambal sulam” menjadi pembangunan jangka panjang, maka julukan sebagai “provinsi tertinggal dalam infrastruktur jalan” akan semakin sulit dilepaskan.

Masyarakat menanti, kapan jalur utama Banyumas bisa sehalus jalur-jalur di Jawa Barat? Atau apakah rakyat Jateng memang ditakdirkan untuk selalu “bersyukur secara minimalis”?

Laporan: Armin

Editor: Redaksi Pojok Daily