PANDEGLANG – Jagat media sosial dihebohkan oleh unggahan video amatir yang memperlihatkan seorang pendaki wanita diduga mengalami kesurupan saat menembus jalur pendakian Gunung Aseupan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Rekaman tersebut viral dan memicu perdebatan hangat di kalangan warganet terkait etika berkegiatan di alam bebas.

Dalam potongan video yang beredar, wanita berbaju merah muda dan bercelana motif loreng tersebut semula terlihat berada di jalur pendakian utama. Namun pada cuplikan berikutnya, ia tampak terduduk lemas di tengah rimbunnya hutan dengan kondisi psikis yang tidak stabil.

Berdasarkan narasi yang beredar luas di media sosial, insiden tersebut dipicu oleh tindakan korban yang diduga tidak menjaga ucapan atau melanggar pantangan lisan selama pendakian. Situasi sempat mencekam ketika wanita tersebut mendadak berlari histeris ke arah jurang, sebelum akhirnya berhasil didekap dan diamankan oleh rombongan pendaki lain yang berada di lokasi kejadian.

Antara Mitos Lokal dan Faktor Medis Hipotermia

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak pengelola pos pendakian, relawan, maupun aparat setempat mengenai kronologi definitif ataupun identitas korban. Hal ini membuat kolom komentar platform digital terbelah menjadi dua sudut pandang:

  • Perspektif Kearifan Lokal: Sebagian besar warganet dan pencinta alam mengaitkan peristiwa ini dengan pentingnya menjaga tata krama, etika, dan menghormati kearifan lokal yang berlaku di kawasan Gunung Aseupan.

  • Perspektif Medis/Psikologis: Sebagian warganet lainnya menilai perilaku histeris tersebut murni disebabkan oleh faktor fisik seperti kelelahan ekstrem, dehidrasi berat, stres, hingga gejala hipotermia yang mengganggu fungsi kognitif dan kesadaran pendaki.

Gunung Aseupan selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi petualangan favorit di Pandeglang. Selain memiliki karakteristik vegetasi yang lebat, kawasan ini memegang teguh aturan adat tidak tertulis yang wajib dipatuhi demi keselamatan.

Melalui viralnya video ini, komunitas pendaki mengimbau para petualang untuk selalu melakukan persiapan fisik yang matang dan tetap menjaga perilaku normatif selama menjelajahi alam liar.