PANDEGLANG – Secercah harapan baru akhirnya menghampiri keluarga Arman (57), warga Kampung Baru Cilurah, Desa Sukanegara, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang. Setelah kisah pilu putrinya, Ati (16), yang terpaksa putus sekolah akibat himpitan ekonomi dan tinggal di gubuk lapuk viral di jagat maya, hunian mereka kini resmi dibongkar untuk dibangun kembali menjadi rumah layak huni.

Pada Sabtu, 6 Juni 2026, puluhan warga Kampung Cilurah secara swadaya berkumpul dan bergotong royong meruntuhkan bangunan lama milik Arman yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan nyaris roboh. Aksi solidaritas masif ini menandai dimulainya proyek pembangunan ulang yang seluruh pendanaannya bersumber dari uluran tangan para donatur serta masyarakat yang tergerak oleh penderitaan keluarga tersebut.

Suasana kebersamaan kental terasa di lokasi. Warga saling bahu-membahu membersihkan puing-puing material dan menyiapkan fondasi baru dengan harapan keluarga prasejahtera ini dapat segera menikmati tempat bernaung yang aman dari ancaman cuaca.

“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada seluruh warga, para donatur, dan semua pihak yang sudah peduli membantu keluarga kami. Saya tidak menyangka rumah kami yang selama ini hampir roboh akhirnya bisa dibangun kembali,” ungkap Arman dengan mata berkaca-kaca, Sabtu (6/6/2026).

Impian Baru Ati Setelah Putus Sekolah

Kebahagiaan yang sama terpancar dari wajah Ati. Remaja berusia 16 tahun yang sempat menjadi pusat perhatian publik lantaran terpaksa mengubur mimpinya melanjutkan pendidikan akibat kemiskinan ekstrem ini mengaku terharu atas gelombang simpati yang datang.

“Bantuan ini memberikan harapan baru bagi kami untuk bisa tinggal di rumah yang lebih aman dan nyaman. Saya sangat bahagia dan terharu melihat begitu banyak orang yang peduli kepada keluarga kami,” kata Ati lirih.

Sebelum mendapat perhatian luas dari media dan netizen, keluarga Arman harus bertahan hidup di bawah garis kemiskinan selama bertahun-tahun. Nafkah utama mereka hanya bersandar dari profesi Arman sebagai pemulung barang bekas, dengan pendapatan harian berkisar antara Rp15.000 hingga Rp30.000 saja. Angka yang jauh dari kata cukup untuk sekadar memenuhi kebutuhan pangan, apalagi merenovasi tempat tinggal.

Gerakan bedah rumah ini menjadi bukti nyata kekuatan solidaritas sosial masyarakat di tingkat akar rumput dalam merespons ketimpangan kesejahteraan. Kini, masyarakat Carita berharap pembangunan dapat berjalan lancar sehingga Ati dan ayahnya bisa segera menata masa depan yang lebih baik di bawah atap yang kokoh.