
JAKARTA – Jagat media sosial kembali digegerkan oleh unggahan foto struk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mencantumkan narasi bahwa harga keekonomian riil Pertalite (RON 90) menyentuh angka Rp18.040 per liter. Angka tersebut mendadak memicu kontroversi dan kebingungan masif di tengah masyarakat, mengingat harga jual Pertamax (RON 92) yang notabene memiliki kualitas lebih tinggi saat ini dibanderol lebih murah, yakni Rp16.250 per liter.
Simpang siur ini memicu lahirnya beragam spekulasi di platform digital. Banyak netizen yang mempertanyakan rasionalitas formulasinya, bahkan tak sedikit yang meragukan kualitas antarkedua jenis bahan bakar tersebut.
“Ketika Rakyat Dibuat Bingung Harga Pertamax Vs Pertalite, Kualitasnya Bagusan Mana?” tulis salah satu penggalan takarir video yang viral dikutip pada Minggu (14/6/2026).
Mengapa Harga Keekonomian RON Rendah Bisa Lebih Mahal?
Secara logika awam, barang dengan kualitas lebih tinggi (RON 92) seharusnya diproduksi dengan biaya yang lebih mahal daripada kualitas di bawahnya (RON 90). Namun, dalam lanskap tata kelola energi dan perhitungan harga keekonomian BBM di Indonesia, ada tiga faktor utama yang menyebabkan anomali angka tersebut terjadi:
-
Skala Ekonomi dan Biaya Pengadaan (Sektor Hulu): Pertamax diproduksi dan didistribusikan dalam volume yang lebih terukur untuk pasar komersial. Sementara itu, Pertalite merupakan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) yang kuotanya dikontrol ketat oleh negara. Tingginya biaya logistik untuk mendistribusikan Pertalite hingga ke pelosok tanah air (One Price Policy) mendongkrak komponen biaya operasional secara keseluruhan dalam rumus harga dasar.
-
Formulasi Alokasi Subsidi dan Kompensasi: Angka Rp18.040 yang tertera pada struk bukanlah harga jual, melainkan kalkulasi harga riil tanpa intervensi APBN. Selisih tebal antara harga keekonomian tersebut dengan harga jual eceran tetap Pertalite sebesar Rp10.000 per liter merupakan nilai subsidi dan kompensasi yang ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah demi menjaga daya beli masyarakat.
-
Metodologi “Mean of Platts Singapore” (MOPS): Harga keekonomian BBM domestik dihitung berdasarkan formula harga patokan minyak mentah internasional dan produk kilang di pasar Singapura (MOPS). Fluktuasi permintaan global terhadap komponen pencampur (blending) untuk masing-masing nilai oktan di pasar internasional bisa membuat harga dasar RON 90 bergejolak lebih tinggi pada periode tertentu dibanding RON 92.
Komparasi Kualitas: Pertamax Tetap Unggul
Pemerintah dan praktisi otomotif menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu rancu mengenai kualitas produk. Secara teknis, Pertamax (RON 92) tetap memiliki kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan Pertalite (RON 90).
Tingkat oktan yang lebih tinggi pada Pertamax membuat pembakaran di dalam mesin kendaraan menjadi lebih sempurna, mencegah gejala menggelitik (knocking), lebih ramah lingkungan, serta membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih efisien untuk spesifikasi mesin kendaraan modern saat ini.

Polemik struk viral ini menjadi momentum berharga bagi Kementerian ESDM dan PT Pertamina (Persero) untuk memacu transparansi perhitungan formula formula harga dasar energi ke publik. Langkah edukasi ini dinilai mendesak agar jalannya program reformasi subsidi energi nasional tidak bias dan tetap sasaran di tengah dinamika geopolitik global.






Tinggalkan Balasan