
JAKARTA – Memasuki tahun 2026, wajah diplomasi Indonesia mengalami pergeseran tektonik yang menarik untuk dibedah. Di bawah komando Presiden Prabowo Subianto, Jakarta tidak lagi sekadar menjadi “penonton yang santun” di tribun internasional. Sebaliknya, Indonesia kini tampil sebagai pemain catur yang dingin, kalkulatif, dan pragmatis.
Salah satu ujian paling krusial bagi kinerja sang Presiden adalah sikap teguh Indonesia untuk tetap bertahan di Board of Peace, sebuah forum internasional ambisius besutan Donald Trump. Di tengah badai spekulasi dan tekanan dari berbagai kutub kekuatan, Prabowo memilih jalan yang berisiko namun menjanjikan: Tetap di dalam.
Pragmatisme di Atas Sentimen
Bagi para kritikus, keterlibatan Indonesia dalam forum yang digagas tokoh kontroversial seperti Trump dianggap sebagai langkah yang “abu-abu”. Namun, jika kita membedah kinerja kabinet Prabowo, terlihat sebuah pola yang sangat jernih: Kepentingan Nasional di atas Sentimen Personal.
Prabowo menyadari betul bahwa Board of Peace bukan sekadar ruang obrolan. Ini adalah kanal strategis. Dengan tetap berada di meja perundingan, Indonesia memiliki akses langsung ke pusat gravitasi kebijakan global yang bisa berdampak pada ekonomi domestik. Ini adalah manifestasi dari “Diplomasi Perut” yang cerdas; menjaga perdamaian dunia demi memastikan rantai pasok dan stabilitas pasar tetap terjaga.
Rebranding ‘Bebas Aktif’: Tidak Mengekor, Tidak Menonton
Kinerja Prabowo dalam urusan luar negeri patut diberi catatan khusus pada caranya mendefinisikan ulang doktrin “Bebas Aktif”. Selama puluhan tahun, doktrin ini sering diterjemahkan sebagai sikap “netral yang pasif”. Di tangan Prabowo, doktrin ini menjadi “Bebas yang Berdaulat, Aktif yang Memengaruhi.”

Klarifikasi tegas Presiden yang membantah isu hengkangnya Indonesia dari Board of Peace adalah sinyal bagi dunia: Indonesia bukan “follower”. Kita hadir sebagai representasi suara Global South (Negara Berkembang). Prabowo ingin memastikan bahwa saat negara-negara besar bicara soal perdamaian, mereka tidak lupa melibatkan suara negara-negara yang selama ini hanya menjadi objek kebijakan.
Visi Mediator: Menuju ‘Middle Power’ yang Disegani
Salah satu indikator keberhasilan kinerja politik luar negeri seorang Presiden adalah sejauh mana negara tersebut dipercaya sebagai penengah. Dengan posisi Indonesia yang tetap inklusif terhadap inisiatif Barat (seperti forum Trump) namun tetap karib dengan blok Timur, Prabowo sedang memoles citra Indonesia sebagai The Honest Broker.
Keanggotaan di Board of Peace adalah modal sosial bagi Indonesia untuk naik kelas menjadi mediator konflik internasional. Jika ini berhasil, Indonesia akan mengukuhkan posisinya sebagai Middle Power yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata dalam peta kekuatan dunia.
Catatan Kritis: Tantangan Inklusivitas
Meski performa diplomasi ini tampak meyakinkan, tantangan besar menanti di depan mata. Bagaimana Prabowo menjaga inklusivitas di dalam negeri agar langkah catur ini tidak dianggap sebagai keberpihakan pada satu blok saja? Menjaga keseimbangan di antara rivalitas kekuatan besar adalah pekerjaan rumah yang membutuhkan napas panjang.
Kesimpulan Redaksi: Presiden Prabowo sedang memainkan permainan jangka panjang. Kinerjanya di panggung internasional menunjukkan bahwa ia adalah seorang realis politik yang memahami bahwa di dunia yang sedang kacau, kursi di meja perundingan jauh lebih berharga daripada pintu keluar. Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti arah angin; kita sedang mencoba menjadi salah satu penentu ke mana angin itu akan berhembus.









Tinggalkan Balasan