
BREBES – Jebolnya saluran irigasi di Desa Parereja, Kecamatan Banjarharjo, kembali membuka tabir kelam pengelolaan infrastruktur pertanian di daerah. Di saat pemerintah mendengungkan program swasembada pangan, realita di lapangan justru menunjukkan pemandangan kontras: para petani harus merogoh kocek pribadi dan menguras tenaga secara swadaya untuk memperbaiki fasilitas publik yang rusak.
Saluran irigasi yang berlokasi tepat di depan eks-SPPG Desa Parereja tersebut jebol akibat hantaman debit air yang tinggi pasca hujan deras mengguyur wilayah Banjarharjo dalam beberapa hari terakhir.
Gotong Royong atau Bentuk Pembiaran?
Melihat ancaman kekeringan dan gagal panen yang menghantui, Paguyuban Ulu-Ulu Desa Cigadung tidak tinggal diam. Tanpa menunggu bantuan alat berat atau kucuran dana darurat dari dinas terkait, mereka turun ke lokasi melakukan perbaikan secara swadaya.
Toap, selaku ketua paguyubang ulu – ulu desa Cigadung, mengonfirmasi bahwa jebolnya tanggul sungai irigasi tersebut murni disebabkan oleh faktor alam, yakni intensitas hujan yang ekstrem. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah: Ke mana negara saat infrastruktur vital ini hancur?
Kritik: Menagih Tanggung Jawab Dinas PU dan BBWS
Secara regulasi, pemeliharaan saluran irigasi primer dan sekunder merupakan tanggung jawab pemerintah, baik itu melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bidang Pengairan maupun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Sangat disayangkan jika setiap kali terjadi kerusakan akibat bencana, beban perbaikan justru dilimpahkan secara implisit kepada petani. Paguyuban Ulu-Ulu, yang seharusnya fokus pada pembagian distribusi air, kini terpaksa memikul beban kontraktor proyek karena lambannya respons birokrasi dalam menangani titik kritis bencana.
Kebijakan anggaran darurat bencana seharusnya bisa dialokasikan secara cepat tanpa harus menunggu prosedur administrasi yang berbelit, mengingat sektor pertanian adalah urat nadi ekonomi warga Banjarharjo.
Apresiasi “Manis” di Tengah Keringat Petani
Menanggapi aksi heroik para petani tersebut, pihak berwenang setempat menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada warga. Ucapan terima kasih ini, meski terdengar santun, terasa “pahit” bagi para petani yang berharap adanya solusi jangka panjang berupa penguatan tanggul yang permanen, bukan sekadar tambal sulam ala kadarnya.
“Kami sangat berterima kasih atas inisiatif warga dan Paguyuban Ulu-Ulu. Sinergi ini menunjukkan semangat gotong royong yang luar biasa,” ungkap perwakilan otoritas terkait.
Namun, bagi para petani, mereka tidak butuh sekadar ucapan terima kasih. Mereka butuh kepastian bahwa di musim hujan berikutnya, mereka tidak perlu lagi “patungan” untuk memperbaiki fasilitas yang seharusnya menjadi kewajiban negara.
Laporan: Armin








Tinggalkan Balasan