
TANGERANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang secara resmi mengambil langkah berani dengan menarik diri dari megaproyek regional Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Aglomerasi Tangerang Raya. Alih-alih melanjutkan proyek bersama yang dinilai membebani pos pembiayaan daerah, otoritas kota kini menjatuhkan pilihan untuk mengembangkan fasilitas PSEL secara mandiri yang akan dipusatkan di wilayah Jatiuwung.
Keputusan taktis ini diambil pasca-Pemkot Tangerang melangsungkan kajian internal yang mendalam terkait efektivitas proyek aglomerasi regional yang sebelumnya dirancang lintas daerah. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa skema kemitraan bersama tersebut kurang menguntungkan dari sisi efisiensi anggaran dan kendali operasional proyek.
Fokus Kembangkan PSEL Mandiri di Lahan 5 Hektare
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Wawan Fauzi, mengonfirmasi bahwa rencana pembangunan PSEL mandiri ini sebenarnya sudah digodok sejak lama. Begitu keputusan pembatalan proyek aglomerasi disepakati, Pemkot Tangerang langsung mengaktifkan rencana cadangan tersebut sebagai prioritas utama.
“Kami memutuskan tidak melanjutkan proyek PSEL Aglomerasi Tangerang Raya di Jatiwaringin. Sebagai gantinya, Kota Tangerang akan mengembangkan PSEL mandiri di Jatiuwung,” papar Wawan Fauzi dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).
Fasilitas pengolahan sampah modern ini direncanakan berdiri di atas hamparan lahan seluas kurang lebih 5 hektare. Bahkan, beberapa hari lalu perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dilaporkan telah turun langsung meninjau calon lokasi tersebut guna melangsungkan proses studi kelayakan (feasibility study).
Wawan membeberkan bahwa alasan fundamental di balik keputusan berpisah dari skema aglomerasi adalah faktor kompleksitas birokrasi dan tingginya biaya. Skema antardaerah dianggap membutuhkan struktur pembiayaan yang jauh lebih masif serta berpotensi memperlambat proses pengambilan keputusan krusial akibat banyaknya kepala daerah yang terlibat.

“Kalau menggunakan skema aglomerasi, pembiayaannya jauh lebih besar dan prosesnya juga lebih kompleks karena melibatkan banyak daerah. Kami ingin proyek ini lebih realistis dan cepat berjalan,” cetus Wawan.
Kejar Target Teken Kontrak dengan Investor Sebelum Akhir 2026
Guna mengejar akselerasi pembangunan, Pemkot Tangerang kini memasang target tinggi untuk merampungkan seluruh tahapan pembebasan lahan dalam waktu dekat. Otoritas kota berharap proses lelang terbuka hingga penandatanganan kontrak kerja sama dengan pihak investor pemenang tender dapat diselesaikan sebelum akhir tahun 2026.
Kendati diselimuti optimisme tinggi, proyek PSEL mandiri ini tetap dihadapkan pada tantangan klasik yang menghadang di lapangan, antara lain:
-
Aspek Pendanaan: Mengingat besarnya nilai investasi instrumen pengolahan sampah berskala industri.
-
Teknologi Pengolahan: Pemilihan teknologi yang ramah lingkungan sekaligus efisien.
-
Kepastian Sektor Privat: Komitmen jangka panjang investor dan kepastian tarif listrik serta biaya operasional (tipping fee) yang kerap membuat proyek serupa di berbagai daerah di Indonesia tersendat.
Urgensi Penanganan 1.600 Ton Sampah Harian
Di luar pelbagai kendala teknis tersebut, realisasi PSEL dinilai sudah berada dalam taraf kedaruratan yang mendesak. Hal ini merujuk pada fakta bahwa volume produksi sampah harian di Kota Tangerang saat ini telah menyentuh angka fantastis, yakni berkisar 1.600 ton per hari.
Apabila megaproyek mandiri di Jatiuwung ini berjalan mulus sesuai dengan lini masa yang dirancang, infrastruktur PSEL tersebut diproyeksikan mampu melumat dan mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari. Jumlah tersebut diklaim mampu memangkas lebih dari separuh beban produksi sampah domestik yang dihasilkan oleh masyarakat Kota Tangerang setiap harinya. (RED/TNG)








Tinggalkan Balasan