KUDUS — Ratusan siswa SMAN 2 Kudus dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan pada Rabu (28/1/2026). Dugaan keracunan ini membuat puluhan hingga ratusan siswa dilarikan ke rumah sakit dan memicu berbagai tanggapan dari sekolah, pemerintah, serta pihak penyedia makanan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Mustiko Wibowo, mengonfirmasi bahwa jumlah siswa yang dirawat mencapai 118 orang yang tersebar di tujuh rumah sakit di Kudus. Ia juga menjelaskan gejala yang dialami meliputi mual, pusing, diare, dan muntah yang mulai muncul beberapa jam setelah konsumsi menu MBG.

“Hasil pendataan kami hingga saat ini jumlah siswa yang dirawat mencapai 118 orang dan tersebar di tujuh rumah sakit,” ujar Mustiko Wibowo saat memberikan keterangan kepada media berkaitan dengan dugaan keracunan makanan MBG.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan Dwiyana juga memberikan pernyataan kepada wartawan mengenai perkembangan situasi di sekolah:

“Data dari sekolah ada sekitar 109 siswa yang dibawa ke rumah sakit. Semalam muncul keluhan mual dan diare, pagi harinya banyak guru juga mengalami keluhan serupa. Kami segera koordinasi dengan tenaga medis dan menginformasikan kepada orang tua murid,” terang Dwiyana di lokasi kejadian.

Dari sisi orang tua, Nur Wahidah, yang mengantar putranya ke rumah sakit, membuka kisah langsung:

“Anak saya mulai diare dan mules setelah makan MBG tadi malam. Padahal sebelumnya baik-baik saja, baru kali ini dia mengalami gangguan setelah makanan sekolah,” ujar Nur sambil menunggu perawatan putranya.

Sementara itu, pihak penyedia makanan SPPG Purwosari, yang bertanggung jawab atas penyediaan menu MBG di sekolah tersebut, juga telah angkat bicara. Kepala SPPG, Nasihul Umam, menyampaikan permintaan maaf dan siap bertanggung jawab:

“Kami siap mengambil tanggung jawab penuh atas kejadian ini, termasuk penggantian biaya pengobatan bagi siswa yang dirawat. Kami juga akan mengevaluasi kembali proses produksi makanan MBG dan menunggu hasil uji laboratorium agar kejadian serupa tidak terulang,” kata Nasihul Umam dalam keterangan resminya.

Nasihul menambahkan bahwa pihaknya sudah melakukan klarifikasi terhadap menu soto ayam suwir dengan tempe dan toge yang menjadi konsumsi siswa, namun penyebab pasti dari kasus ini masih menunggu hasil uji laboratorium.

Evaluasi dan Tanggapan Resmi

Pemerintah Kabupaten Kudus bersama unsur TNI/Polri dan rumah sakit setempat juga bergerak cepat melakukan evakuasi dan penanganan medis bagi siswa yang terdampak. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan bahwa respons cepat ini merupakan upaya untuk memastikan keamanan dan kesehatan para pelajar.

Kasus ini menjadi sorotan karena program MBG sebelumnya pernah juga dikaitkan dengan sejumlah gangguan kesehatan di daerah lain setelah konsumsi makanan serupa. Insiden ini memicu desakan dari sejumlah pihak untuk memperketat standar keamanan pangan dan pengawasan terhadap mitra penyedia makanan program MBG di semua tingkat sekolah.