PANDEGLANG – Berdasarkan Kalender Hijriah dari Kementerian Agama (Kemenag), 1 Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Menjelang hitungan hari menuju bulan suci, berbagai elemen masyarakat di Pandeglang, mulai dari insan pers hingga aktivis sosial, mulai merapatkan barisan untuk mempertegas komitmen moral dan sosial.

Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan dipandang sebagai “madrasah ruhani” untuk melatih kejujuran dan empati di tengah dinamika bangsa yang kian kompleks.

Jurnalisme sebagai Penyejuk Publik

Kasman, Pimpinan Redaksi detikPerkara, menekankan bahwa Ramadan adalah momentum krusial bagi wartawan untuk kembali ke khittah jurnalisme yang beretika. Menurutnya, akurasi informasi adalah bentuk ibadah profesional yang paling nyata.

“Puasa mengajarkan kita menahan diri, termasuk menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Di bulan suci ini, media harus hadir sebagai penyejuk, bukan pemantik kegaduhan,” tegas Kasman. Ia mengajak seluruh insan pers melakukan muhasabah redaksional agar setiap karya jurnalistik tetap berpihak pada kebenaran.

Pemuda dan Aktivisme Berbasis Empati

Di sisi lain, Sekretaris DPD KNPI Pandeglang, Entis Sumantri, menyoroti peran pemuda sebagai penggerak solidaritas sosial. Ia berharap organisasi kepemudaan tidak pasif, melainkan menjadi garda terdepan dalam aksi berbagi selama Ramadan.

“Pemuda harus hadir di tengah masyarakat untuk memperkuat kepedulian. Ramadan adalah saatnya kita mengonsolidasi moral untuk merawat persatuan,” tutur Entis.

Senada dengan itu, Tubagus Tobi dari Presidium Aktivis Sosial Independen AKSI, mengingatkan bahwa aktivisme tanpa kepekaan spiritual akan kehilangan arah. Bagi Tobi, puasa adalah latihan untuk mempertajam nurani dalam membela kepentingan masyarakat.

“Ramadan mengajarkan keseimbangan antara keberanian bersuara dan kebijaksanaan dalam bertindak. Aktivisme harus berakar pada etika dan empati,” tambahnya.

Menuju Peradaban yang Beradab

Toni, Dankoti Ormas Gaib 212, turut menghimbau masyarakat untuk mempersiapkan mental dan spiritual. Ia menilai bahwa membersihkan hati dari prasangka adalah bekal utama menyambut bulan penuh ampunan ini.

“Ketika wartawan menjaga akurasi, aktivis merawat empati, dan pemuda menghidupkan solidaritas, maka Ramadan menjadi fondasi bagi Indonesia yang lebih beretika, adil, dan bermartabat,” pungkas Toni.

Gema Ramadan 1447 H ini diharapkan membawa energi baru bagi seluruh elemen di Pandeglang untuk memperkuat integritas dan memperdalam pengabdian kepada umat dan bangsa.

Pewarta: Dedi Supandi