Berikut adalah rilis ulang berita tersebut dengan tata bahasa yang lebih rapiKABUPATEN TANGERANG – Tingginya intensitas curah hujan sejak penghujung tahun 2025 mengakibatkan Sungai Cidurian meluap dan merendam sebagian wilayah Kabupaten Tangerang, Banten. Dampak terparah dirasakan di Kecamatan Kresek, di mana lima desa kini dikepung banjir, Jumat (23/01/2026).

Luapan air tersebut tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga memutus akses transportasi, termasuk di terowongan jembatan Desa Koper yang tidak bisa dilalui kendaraan.

Kondisi di Lapangan dan Penyebab Banjir

Camat Kresek, Eka Fathussidki, S.STP, saat melakukan monitoring bersama jajaran Forkopimcam dan perwakilan Kementerian Sosial (Kemensos), mengonfirmasi bahwa banjir telah merendam lima desa, yakni:

* Desa Koper

* Desa Pasir Ampo

* Desa Patrasana

* Desa Renged

* Desa Kresek

“Kami turun langsung memantau kondisi di titik-titik terdampak seperti Kampung Bojong, Kampung Panalakan, dan Kampung Dukuh. Banjir kali ini disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi serta jebolnya tanggul di Kampung Bojong RT 001/001,” jelas Eka.

Menurut Camat, ketinggian air di permukiman warga bervariasi mulai dari 50 hingga 150 sentimeter. Pihaknya telah mendirikan posko pengungsian dan dapur umum di tiga titik yang dipusatkan di Desa Pasir Ampo.

“Saya sudah instruksikan seluruh Kepala Desa untuk antisipasi karena debit air Sungai Cidurian makin tinggi. Warga di tepi sungai diimbau tetap waspada,” tambahnya.

Dampak Meluas hingga Kronjo

Tim Koordinator Kemensos Kabupaten Tangerang yang terdiri dari Dede Damyati, Ratno Gemilang, dan Mia Rosmiati turut hadir di lokasi. Mia Rosmiati mengungkapkan bahwa dampak banjir mulai meluas ke wilayah tetangga, yakni Kecamatan Kronjo.

“Perkembangan hari ini dampaknya meluas ke Kronjo. Warga yang rumahnya terendam 40 cm mengungsi ke rumah kerabat, sementara yang terendam 10 cm memilih bertahan menjaga barang berharga,” ujar Mia.

Mia juga menyoroti penyebab mendasar banjir yang berulang setiap tahun. Menurutnya, Sungai Cidurian mengalami pendangkalan (sedimentasi) dan abrasi parah. Turap atau tanggul yang dibangun warga secara swadaya dinilai tidak memadai dan rawan jebol.

“Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan pompa penyedot karena ini limpahan dari sungai. Kami berharap Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWS C3) Kementerian PUPR segera melakukan pengerukan sungai dan pembangunan tanggul permanen yang kokoh,” tegas Mia.

Penanganan Terkini

Kepala Desa Pasir Ampo, Suardi (Jaro Wardi), menyebutkan pihaknya belum bisa menaksir total kerugian materiil warganya. Namun, fokus saat ini adalah keselamatan warga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang memprediksi curah hujan tinggi masih akan terjadi. Saat ini, petugas BPBD dan relawan telah disiagakan di lokasi dengan perahu karet untuk membantu mobilitas warga yang ingin melintas atau mengevakuasi diri.