
SEMARANG – Media sosial kembali diramaikan oleh gelombang keluhan warga Jawa Tengah terkait kualitas perbaikan jalan di berbagai titik wilayah. Alih-alih mendapatkan jalanan yang mulus melalui rekonstruksi ulang, masyarakat justru disuguhi pemandangan proyek “tambal sulam” yang dinilai tidak bertahan lama.
Isu ini mendadak viral setelah sejumlah unggahan di Facebook (Meta) dan Instagram memperlihatkan kondisi jalan yang baru saja diperbaiki namun sudah kembali berlubang setelah diguyur hujan. Nama Ahmad Luthfi pun ikut terseret dalam pusaran perdebatan publik terkait efektivitas pengawasan infrastruktur di wilayah tersebut.
Rekonstruksi vs Tambal Sulam: Mana Solusinya?
Perdebatan utama netizen berpusat pada metode perbaikan yang dipilih pemerintah. Warga menilai bahwa kebijakan hanya menambal lubang (patching) adalah bentuk pemborosan anggaran karena hasilnya yang bersifat temporer.
“Kenapa cuma ditambal saja? Baru seminggu kena hujan sudah lepas lagi aspalnya. Kita butuh rekonstruksi ulang agar pondasi jalan kuat, bukan sekadar riasan di permukaan,” tulis salah satu akun warga di kolom komentar sebuah grup komunitas.
Kritik ini semakin tajam dialamatkan kepada figur-figur kunci di Jawa Tengah, termasuk Ahmad Luthfi, yang diharapkan mampu mendorong standar kualitas infrastruktur yang lebih tinggi untuk menjamin keselamatan pengendara.

Perbandingan Kualitas Perbaikan Jalan
| Aspek | Tambal Sulam (Patching) | Rekonstruksi Ulang |
| Daya Tahan | Sangat Rendah (Hitungan Bulan) | Tinggi (Hitungan Tahun) |
| Biaya Jangka Pendek | Murah | Mahal |
| Efektivitas | Hanya Menutup Gejala | Menyelesaikan Masalah Akar (Pondasi) |
| Dampak Ekonomi | Sering Macet Akibat Perbaikan Berulang | Mobilitas Lebih Lancar Jangka Panjang |
Tekanan Publik Terhadap Kinerja Pejabat
Keluhan ini bukan tanpa alasan. Jalanan yang berlubang di Jawa Tengah tidak hanya menghambat arus logistik, tetapi juga sering menjadi penyebab kecelakaan maut. Masyarakat kini mulai membandingkan kinerja infrastruktur daerah dengan provinsi tetangga yang dinilai lebih serius dalam melakukan betonisasi atau pengaspalan ulang secara menyeluruh.
Hingga saat ini, netizen masih terus menagih respons nyata. Mereka berharap para tokoh yang memiliki pengaruh besar di Jawa Tengah tidak hanya fokus pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar turun tangan memastikan kontraktor proyek mengerjakan jalan sesuai standar keamanan yang ketat.
“Kami tidak butuh janji manis di media sosial, kami butuh jalan yang tidak membuat kami jatuh dari motor setiap hari,” tutup salah satu pernyataan warga yang viral.
Laporan : Armin








Tinggalkan Balasan