BANJARNEGARA – Ketegangan terjadi di Kantor Balai Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada Selasa (11/3). Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho—yang populer dengan sapaan Hoho Alkaf—mengaku telah menjadi korban pengeroyokan oleh puluhan orang usai aksi unjuk rasa terkait penjaringan perangkat desa.

Kronologi Kejadian: Berawal dari Demo LSM

Peristiwa bermula saat ratusan massa yang tergabung dalam sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mendatangi Balai Desa Purwasaba. Mereka menuntut agar proses penjaringan dan penyaringan perangkat desa yang tengah berlangsung segera dibatalkan.

Awalnya, aksi penyampaian pendapat tersebut berjalan relatif tertib. Namun, situasi mulai memanas ketika massa mendesak pemerintah desa untuk mengulang tahapan seleksi dari awal. Kericuhan pecah saat Hoho Alkaf hendak meninggalkan kantor balai desa setelah agenda pertemuan berakhir.

Kades Hoho Alkaf: “Kacamata Pecah, Baju Robek”

Melalui unggahan di media sosial pribadinya yang kini viral, Hoho Alkaf membeberkan detik-detik dirinya diserang oleh kerumunan massa. Ia menyebut serangan tersebut terjadi secara tiba-tiba di tengah kepungan pendemo.

“Saya hendak keluar dari balai desa, tapi langsung diserang dan dikeroyok. Kacamata saya pecah dan baju saya robek,” ujar Hoho dalam keterangannya.

Hoho menegaskan bahwa dirinya tidak akan tunduk pada tekanan massa. Menurutnya, proses penjaringan perangkat desa di Purwasaba sudah dilaksanakan secara transparan dan sesuai dengan mekanisme serta aturan perundang-undangan yang berlaku.

Pemicu Konflik: Ketidakpuasan Hasil Seleksi

Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi demonstrasi tersebut diduga dipicu oleh kekecewaan salah satu anggota LSM yang dinyatakan tidak lolos dalam tahapan seleksi perangkat desa. Kelompok massa tersebut menuntut transparansi lebih dan meminta agar hasil yang sudah diumumkan dicabut.

Namun, pemerintah desa menolak tuntutan tersebut karena merasa prosedur telah dijalankan secara sah. “Proses penjaringan perangkat desa sudah sesuai mekanisme. Tidak mungkin dibatalkan hanya karena tekanan,” tegas Hoho.

Kritik Terhadap Pengamanan dan Rencana Lapor Propam

Selain melaporkan pengeroyokan yang dialaminya, Hoho Alkaf juga menyoroti kinerja aparat keamanan di lokasi kejadian. Ia menilai petugas kepolisian yang berjaga tidak memberikan perlindungan maksimal sehingga kericuhan tidak dapat dihindari.

Sebagai bentuk protes atas dugaan pembiaran tersebut, Hoho berencana melaporkan oknum aparat yang bertugas saat kejadian ke Propam Mabes Polri. Ia menuntut adanya perlindungan hukum yang adil bagi pejabat desa yang sedang menjalankan tugas negara.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian setempat belum memberikan keterangan resmi terkait detail kronologi kericuhan maupun rencana pelaporan ke Propam yang dilayangkan oleh Kepala Desa Purwasaba tersebut.