BEKASI— Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota dan Kabupaten Bekasi memang mulai surut. Namun bagi banyak warga, masalah justru belum benar-benar selesai. Sepeda motor yang menjadi alat utama mobilitas sehari-hari kini harus “dirawat intensif” di bengkel, dengan biaya servis yang tak murah.

Keluhan itu ramai disuarakan warga, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Motor yang sempat terendam banjir mengalami berbagai kerusakan, mulai dari mesin brebet, kelistrikan bermasalah, hingga mogok total. Kondisi tersebut memaksa warga merogoh kocek lebih dalam, di tengah ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

“Motor dipakai kerja, kemarin kebanjiran setinggi hampir satu meter. Sekarang disuruh turun mesin, biayanya jutaan,” ujar Tata (36), warga Bekasi Utara, saat ditemui di salah satu bengkel.

Bagi warga kelas pekerja, motor bukan sekadar kendaraan, melainkan penopang hidup. Ketika banjir datang, pilihan mereka terbatas: tetap menerobos genangan demi mencari nafkah, atau berhenti total tanpa pemasukan. Risiko kerusakan motor pun seolah menjadi “biaya tambahan” yang tak pernah diperhitungkan.

Sejumlah bengkel di Bekasi mengakui lonjakan servis pascabanjir. Umumnya, motor yang terendam air dalam waktu lama membutuhkan penggantian oli, pembersihan ruang mesin, pengecekan CVT untuk motor matik, hingga perbaikan sistem kelistrikan. Biayanya bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kerusakan.

Ironisnya, keluhan warga ini kembali menyoroti persoalan klasik banjir Bekasi yang seakan tak pernah tuntas. Setiap musim hujan, cerita yang sama berulang: rumah terendam, aktivitas lumpuh, dan setelah air surut, beban ekonomi warga justru bertambah.

Warga berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah, tidak hanya pada penanganan banjir saat darurat, tetapi juga dampak lanjutan yang dirasakan masyarakat. Mulai dari perbaikan sistem drainase, normalisasi sungai, hingga skema bantuan pascabanjir yang menyentuh kebutuhan riil warga.

“Banjirnya boleh surut, tapi masalahnya jangan ikut mengendap,” keluh seorang warga lain.

Bagi masyarakat Bekasi, banjir bukan sekadar bencana alam. Ia telah menjelma menjadi siklus masalah tahunan datang, merusak, pergi, lalu meninggalkan biaya yang harus ditanggung sendiri.