GLOBAL – Ketegangan yang kian memuncak di Timur Tengah memicu kekhawatiran serius di internal pemerintahan Amerika Serikat. David Sacks, Kepala AI Gedung Putih sekaligus orang dekat Presiden Donald Trump, memberikan peringatan keras bahwa kelanjutan perang di Iran dapat membawa dampak fatal yang ia sebut sebagai “kiamat” bagi Negeri Paman Sam.

Dalam pernyataannya melalui podcast ‘All In’ pada Senin (16/3/2026), Sacks mendesak pemerintahan Trump untuk segera mencari jalan keluar diplomatik. Menurutnya, eskalasi militer saat ini tidak hanya mengancam keamanan regional, tetapi juga stabilitas ekonomi dunia yang sangat bergantung pada sumber daya di kawasan tersebut.

Ancaman Terhadap Infrastruktur Energi dan Air

Sacks menyoroti kemampuan Iran untuk melumpuhkan seluruh infrastruktur minyak dan gas di Timur Tengah sebagai bentuk balasan. Hal ini diprediksi akan membuat harga energi melonjak tak terkendali dan memukul ekonomi domestik AS.

“Iran berpotensi meruntuhkan semua infrastruktur energi. Yang lebih menakutkan, mereka bisa menargetkan pembangkit desalinasi yang menyediakan air bagi jutaan orang. Ini bukan lagi sekadar konflik militer, tapi krisis kemanusiaan massal,” ujar Sacks dikutip dari The Verge.

Industri AI Terancam Kelumpuhan

Sebagai pejabat yang bertanggung jawab atas pengawasan sektor Kecerdasan Buatan (AI) di Gedung Putih, Sacks secara spesifik mengkhawatirkan dampak perang terhadap industri teknologi. Konflik ini telah memaksa perusahaan energi besar seperti QatarEnergy menyetop produksi gas alam cair dan helium.

Untuk diketahui, Qatar menyumbang sepertiga dari total suplai helium global. Unsur ini sangat vital dalam manufaktur perangkat elektronik dan semikonduktor yang menggerakkan teknologi AI. Guncangan pada rantai pasok ini diyakini akan menghentikan inovasi teknologi Amerika yang saat ini sedang memimpin pasar dunia.

Desakan Gencatan Senjata

Meski dikenal memiliki pandangan anti-intervensionis, pernyataan Sacks kali ini dianggap sangat krusial karena ia berbicara dari jantung pemerintahan Trump. Ia menekankan bahwa stabilitas pasar adalah prioritas utama yang harus diselamatkan.

“Stabilitas adalah hal yang diinginkan pasar. Kita harus berhenti memprovokasi situasi yang pada akhirnya akan merugikan kepentingan nasional kita sendiri,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih terus dipantau oleh para pemimpin dunia, termasuk pemerintah Indonesia yang mulai menghitung dampak perang terhadap harga BBM nasional dan stabilitas ekonomi dalam negeri.