JAKARTA– Eskalasi ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan menjadi pemantik bagi Teheran untuk kembali mempererat kemitraan militer dengan Korea Utara (Korut). Para analis menilai, “macan tidur” kerja sama pertahanan kedua negara kini mulai terbangun kembali seiring dengan kebutuhan Iran untuk memulihkan infrastruktur militernya.

Pasca-meredanya rangkaian serangan udara di kawasan, fokus Teheran kini beralih pada pembangunan kembali fasilitas pertahanan dan pengayaan uranium. Korea Utara, yang selama puluhan tahun menjadi mitra bayangan dalam pengembangan teknologi rudal, diprediksi akan mengambil peran sentral dalam proses pemulihan tersebut.

Pemulihan Kekuatan dan Teknologi Balasan

Analis senior dari Korea Institute for National Security (KINU), Cho Han-bum, mengungkapkan bahwa Iran kini merasakan urgensi tinggi untuk memiliki kemampuan serangan balasan yang lebih besar. Hal ini mendorong Teheran untuk melirik kembali teknologi Pyongyang yang dikenal andal namun terisolasi dari pasar global.

“Sangat mungkin kedua negara akan memperkuat hubungan bilateral, terutama dalam pengembangan rudal dan fasilitas pengayaan uranium pasca-berakhirnya konflik terbuka,” ujar Cho sebagaimana dikutip dari laporan South China Morning Post (SCMP), Senin (16/3/2026).

Kemitraan ini sejatinya memiliki akar sejarah yang kuat sejak 1973. Sejarah mencatat bahwa rudal balistik kelas Shahab milik Iran dikembangkan dengan basis teknologi dari rudal Nodong milik Korea Utara. Di tengah sanksi internasional yang kian mencekik, opsi bagi kedua negara untuk saling mendukung menjadi semakin masuk akal secara geopolitik.

Dukungan Diplomatik dan Simbolis

Selain aspek teknis militer, sinyal kedekatan kedua negara juga terlihat dari jalur diplomatik. Pyongyang secara resmi telah menyatakan dukungannya atas terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Melalui kantor berita KCNA, Korea Utara menegaskan penghormatannya terhadap pilihan rakyat Iran.

Di sisi lain, Kim Jong-un terus memamerkan kekuatan nuklir negaranya dengan mengawasi peluncuran rudal jelajah strategis terbaru. Pyongyang secara konsisten mengecam agresi militer AS dan Israel terhadap Iran, yang mereka sebut sebagai tindakan yang menghancurkan fondasi perdamaian di kawasan.

Tantangan Keamanan Global

Pengamat internasional menilai bahwa kolaborasi rahasia antara Teheran dan Pyongyang merupakan respons alami atas minimnya alternatif sumber teknologi akibat sanksi Barat. Peneliti senior Oh Gyeong-seob mencatat bahwa selain Rusia, Korea Utara tetap menjadi pemasok teknologi militer paling potensial bagi Iran.

Langkah ini diprediksi akan memicu dinamika baru dalam arsitektur keamanan global. Sinergi antara kemampuan rudal balistik Iran dan keahlian nuklir Korea Utara diperkirakan akan menjadi perhatian utama komunitas internasional, terutama menjelang latihan militer tahunan di Semenanjung Korea.