TEHERAN – Ketegangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memuncak di tengah suasana suci bulan Ramadan. Pemerintah Teheran secara proaktif menutup rapat-rapat pintu negosiasi dan menolak ajakan dialog dari Presiden AS, Donald Trump.

Penolakan tersebut tidak disampaikan dengan bahasa diplomasi yang halus, melainkan diwarnai dengan retorika tajam yang langsung menyita perhatian dunia internasional.

Berdasarkan narasi yang beredar luas, otoritas Iran menegaskan pendirian teguhnya untuk tidak duduk satu meja dengan pemerintahan Washington. Penolakan ini dibumbui dengan pernyataan keras yang menyebutkan bahwa mereka menolak bernegosiasi dengan pihak yang dilabeli sebagai “Setan” atau Great Satan (Setan Besar). Julukan historis ini memang kerap dialamatkan oleh para elite Iran kepada Amerika Serikat sejak era Revolusi Islam 1979.

Sikap keras yang ditunjukkan tepat di bulan Ramadan ini semakin mempertegas lebarnya jurang pemisah antara kedua negara. Lontaran pedas tersebut juga menjadi sinyal kuat bahwa pendekatan diplomasi apa pun dari pemerintahan Trump diprediksi akan menghadapi jalan buntu yang sangat alot.

Pernyataan kontroversial ini sontak memicu gelombang reaksi di berbagai platform media sosial, termasuk menjadi sorotan tajam warganet di Tanah Air. Banyak pengamat geopolitik yang menilai bahwa langkah penolakan frontal dan ekstrem dari Iran ini berpotensi memantik eskalasi ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Gedung Putih terkait penolakan dan lontaran keras dari Teheran tersebut.