RIYADH – Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik kritis baru. Pada Senin (2/3/2026), fasilitas pengolahan minyak milik Saudi Aramco di Ras Tanura menjadi sasaran serangan udara yang diduga kuat diluncurkan oleh Iran. Insiden ini langsung memicu kekhawatiran krisis energi global, menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak tajam dalam hitungan jam.

Kronologi Serangan dan Pernyataan Militer Saudi

Menurut keterangan resmi dari Kementerian Pertahanan Arab Saudi, fasilitas Ras Tanura dihantam oleh serangkaian pesawat tak berawak (drone) peledak pada dini hari waktu setempat. Juru Bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, mengonfirmasi bahwa serangan tersebut berhasil dicegat namun tetap menimbulkan dampak teknis.

“Sistem pertahanan udara kami berhasil mencegat dua drone yang menyasar area kilang. Namun, puing-puing hasil intersepsi jatuh di area operasional dan memicu kebakaran terbatas,” ujar Turki Al-Maliki dalam rilis resminya. Ia menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan keamanan personel dan stabilisasi area terdampak.

Aramco Hentikan Operasional Sementara

Sebagai langkah mitigasi risiko, pihak Saudi Aramco memutuskan untuk menghentikan sementara operasional kilang yang memiliki kapasitas produksi sebesar 550.000 barel per hari tersebut. Sumber internal dari kementerian energi setempat menyebutkan bahwa penghentian ini diperlukan untuk melakukan penilaian kerusakan secara menyeluruh sebelum aktivitas dilanjutkan.

Harga Minyak Brent Melambung 13%

Reaksi pasar terhadap insiden ini sangat instan. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan melonjak hingga 13%, menembus angka di atas $82 per barel. Lonjakan ini mencerminkan kepanikan pasar terhadap potensi gangguan pasokan jangka panjang.

Analis senior dari ANZ (Australia and New Zealand Banking Group) memperingatkan bahwa jika gangguan ini meluas ke jalur pelayaran strategis, dampaknya akan semakin berat. “Pasar saat ini memperhitungkan risiko geopolitik yang sangat tinggi, terutama karena serangan ini terjadi di titik saraf distribusi minyak dunia,” ungkap analis tersebut dalam catatan risetnya.

Dampak bagi Indonesia: Peringatan dari Tokoh Nasional

Kenaikan harga minyak dunia ini juga menjadi alarm bagi ekonomi domestik Indonesia. Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), memberikan tanggapannya mengenai dampak eskalasi konflik ini terhadap stabilitas nasional.

“Kalau perang Iran ini terus meluas, tentu harga minyak dunia akan naik drastis. Ini yang harus diantisipasi oleh pemerintah kita, terutama terkait subsidi BBM dan ketersediaan pasokan energi di dalam negeri,” tegas Jusuf Kalla saat menanggapi situasi tersebut.