JAKARTA – Indonesia dan Jepang resmi mempererat kemitraan strategis melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) terkait pengembangan energi nuklir sipil dan pengelolaan mineral kritis. Kesepakatan besar ini merupakan hasil nyata dari pertemuan tingkat tinggi antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Jepang Takaichi Sanae di Tokyo, baru-baru ini.

Langkah ini menandai babak baru bagi Indonesia dalam mengeksplorasi energi nuklir sebagai solusi jangka panjang untuk pemenuhan energi bersih dan berkelanjutan.

Dua MoU Strategis untuk Masa Depan

Charge de Affairs Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Mitsuru Myochin, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini mencakup dua sektor vital yang menjadi tumpuan industri masa depan.

“Sebenarnya ada dua MoU yang ditandatangani. Satu tentang mineral kritis dan yang lainnya tentang energi nuklir sipil antara Jepang dan Indonesia,” ujar Myochin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (23/04/2026).

Kerja sama mineral kritis diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik, sementara nuklir sipil akan difokuskan pada pemanfaatan teknologi energi bagi kepentingan publik dan industri.

Respons Terhadap Ketidakpastian Geopolitik Global

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya situasi di Iran, menjadi salah satu pemicu utama percepatan kerja sama energi ini. Kedua negara sepakat bahwa ketergantungan pada sumber energi fosil di wilayah konflik harus dikurangi melalui penguatan kemitraan energi terbarukan.

“Kedua pemimpin membahas termasuk kerja sama nuklir sipil. Hal ini dilakukan mengingat situasi saat ini di Iran, sehingga perlu memperkuat kerja sama di sektor energi,” tambah Myochin menjelaskan latar belakang strategis tersebut.

Jepang, dengan pengalaman teknologinya yang mumpuni, berkomitmen memberikan dukungan teknis guna memastikan pemanfaatan nuklir di Indonesia berjalan aman dan efisien sesuai standar internasional.

Inisiatif Asia Zero Emission Community (AZEC)

Selain nuklir, kolaborasi kedua negara juga mencakup proyek-proyek ramah lingkungan lainnya di bawah inisiatif Asia Zero Emission Community (AZEC). Fokusnya meliputi:

  • Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (Geothermal).

  • Teknologi pengolahan limbah menjadi energi (Waste to Energy).

  • Penguatan rantai pasok Liquefied Natural Gas (LNG) untuk stabilitas pasokan energi transisi.

Kesepakatan ini mempertegas posisi Indonesia sebagai mitra prioritas Jepang di Asia dalam mewujudkan target emisi nol bersih (net zero emission) sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah fluktuasi harga komoditas global.