BREBES — Pemandangan menyesakkan dada tersaji di depan gerbang PT Taekwang Sung Hung, Brebes, pada Rabu pagi (11/2/2026). Ribuan anak muda, mayoritas mengenakan kemeja putih dan membawa map cokelat berisi harapan, berdesakan di tengah kepungan sepeda motor. Foto yang viral tersebut bukan sekadar potret antrean lowongan kerja biasa, melainkan tamparan keras bagi pemerintah daerah maupun pusat.

Di tengah klaim pertumbuhan ekonomi yang sering digembar-gemborkan dalam angka-angka statistik di atas kertas, realita di lapangan justru menunjukkan ketimpangan yang lebar. Kerumunan massa ini menjadi bukti sahih bahwa ketersediaan lapangan kerja berkualitas masih menjadi barang mewah di Kabupaten Brebes.

Masuknya industri besar ke wilayah Brebes seharusnya menjadi angin segar. Namun, melihat ribuan orang memperebutkan posisi yang terbatas menunjukkan adanya ketidakseimbangan yang kronis. Beberapa poin krusial yang perlu dikritisi antara lain:

  • Minimnya Diversifikasi Lapangan Kerja: Ketergantungan yang terlalu tinggi pada sektor manufaktur padat karya membuat para pencari kerja tidak memiliki pilihan lain. Hal ini menunjukkan kegagalan pemerintah dalam mendorong sektor UMKM atau ekonomi kreatif yang mandiri.

  • Kesenjangan Keterampilan (Skill Gap): Apakah sistem pendidikan kita hanya mencetak “buruh” yang siap antre di depan gerbang pabrik? Ribuan pelamar ini adalah hasil dari kurikulum yang mungkin tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri masa depan, sehingga mereka terjebak dalam kompetisi kasar demi upah minimum.

  • Ketidaksiapan Infrastruktur Sosial: Kerumunan yang tidak teratur ini mencerminkan lemahnya koordinasi antara dinas tenaga kerja dengan pihak swasta dalam mengelola rekrutmen yang manusiawi.

( Salah satu akun media sosial membagikan pelamar kerja di salah satu PT yang berlokasi di kabupaten Brebes, Jawa Tengah )

Pemerintah Kabupaten Brebes tidak boleh hanya berperan sebagai pembuka karpet merah bagi investor tanpa memikirkan nasib jangka panjang warganya. Pemandangan pada 11 Februari ini harus menjadi momentum evaluasi total.

Jangan biarkan anak muda kita hanya menjadi angka dalam statistik “angkatan kerja” yang murah. Jika masalah ini tidak segera dibenahi dengan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan beragam, maka kerumunan di depan gerbang pabrik ini akan berubah menjadi bom waktu sosial yang siap meledak kapan saja. [red]