
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan respons santai namun menohok terhadap kritik yang dilontarkan komika Pandji Pragiwaksono. Kritik tersebut menyoroti kecenderungan pemilih di Jawa Barat yang gemar memilih pemimpin dari kalangan artis, termasuk melabeli Dedi sebagai “Gubernur YouTube”.
Dalam pernyataannya pada Minggu (4/1/2026), Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kualitas seorang pemimpin tidak boleh hanya dinilai dari label atau latar belakang profesinya, melainkan dari bukti nyata hasil kerja di lapangan.
Tantang Pandji Cek Fakta di Lapangan
Menanggapi label “Artis YouTube” yang disematkan Pandji, Dedi Mulyadi mengundang sang komika untuk melihat langsung perubahan di Jawa Barat. Ia mempersilakan Pandji berkeliling ke pelosok daerah guna menilai infrastruktur dan pelayanan publik secara objektif.
“Nah, gini aja Kang Pandji datang ke Jabar. Keliling, lewatin tuh jalan-jalan provinsi ya. Saya ngebangunnya benar apa enggak? Apakah saya ini hanya gubernur konten atau gubernur kenyataan?” ujar Dedi di Bandung.
Fokus pada Kinerja, Bukan Citra
Dedi menekankan bahwa meski dirinya aktif menggunakan platform digital, hal tersebut merupakan bagian dari transparansi dan komunikasi publik di era modern. Menurutnya, penilaian akhir berada di tangan rakyat yang merasakan langsung kebijakan pemerintahannya.
Ia enggan memuji kinerjanya sendiri dan lebih memilih membiarkan hasil pembangunan yang berbicara. “Saya enggak boleh muji diri saya baik apa enggak saya memimpin,” tuturnya.
Apresiasi Kritik sebagai Bagian dari Demokrasi
Alih-alih merasa tersinggung, Dedi justru memberikan apresiasi atas kritik yang disampaikan secara terbuka dan jenaka oleh Pandji. Ia menganggap hal tersebut sebagai suplemen penting dalam kehidupan bernegara yang demokratis.
“Terus berkarya, melakukan otokritik yang terbuka. Karena ini negara demokrasi, setiap orang berhak menyampaikan pernyataan, termasuk koreksi yang dikemas jenaka. Keren,” tambahnya.
Latar Belakang Kritik Pandji
Sebelumnya, Pandji Pragiwaksono dalam sebuah pernyataan sempat menyentil pola pemilih di Jawa Barat. Ia mencontohkan beberapa pemimpin terdahulu yang berlatar belakang figur publik, mulai dari Deddy Mizwar hingga Dede Yusuf, dan kini Dedi Mulyadi yang menurutnya populer karena konten digitalnya.
Kritik ini kemudian memicu diskusi publik mengenai pentingnya melihat kompetensi substansial di atas popularitas figur dalam kontestasi politik.














Komentar