LEBAK – Kondisi infrastruktur menuju kawasan wisata adat Baduy kembali menjadi sorotan tajam. Jalur utama yang melewati pos-pos pemberhentian wisatawan dilaporkan mengalami kerusakan serius, terutama pada titik terakhir di Pos 4 Cicakal Girang.

Meskipun kawasan Baduy merupakan ikon wisata budaya unggulan di Kabupaten Lebak, akses penghubung di titik tersebut kini dalam kondisi yang membahayakan pengendara dan pejalan kaki.

Sembilan Tahun Tanpa Perawatan

Berdasarkan informasi lapangan, jalur di Cicakal Girang terakhir kali mendapatkan perbaikan pada tahun 2017. Sejak saat itu, tidak ada perawatan signifikan yang dilakukan oleh pihak terkait, sehingga kualitas jalan terus mengalami penurunan drastis.

Ikhwan, salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa wilayah Cicakal Girang kini dipenuhi lubang dan rawan longsor. Situasi semakin memburuk ketika memasuki musim hujan:

  • Kondisi Licin: Jalanan menjadi sangat licin dan sulit dilalui oleh kendaraan maupun pejalan kaki.

  • Risiko Kecelakaan: Tingginya risiko kecelakaan akibat lubang dan medan yang tidak stabil.

  • Dampak Ekonomi: Menurunnya jumlah kunjungan wisatawan serta terganggunya aktivitas distribusi hasil pertanian warga.

Desakan Perbaikan kepada Pemerintah Daerah

Pengurus Koordinator Kumala, Idham, mendesak Pemerintah Daerah Lebak melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk segera mengambil langkah nyata. Ia menegaskan bahwa promosi wisata harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur yang memadai.

“Jangan hanya promosi wisata yang ditingkatkan, tetapi infrastrukturnya diabaikan. Kami minta dinas terkait segera turun tangan, khususnya di titik terparah di Cicakal Girang,” tegas Idham, Minggu (3/5/2026).

Jalur ini dinilai sebagai urat nadi utama menuju kawasan adat. Jika perbaikan tidak segera dilakukan, dikhawatirkan citra pariwisata Baduy akan tercederai dan perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Lebak akan terhambat secara signifikan. (DED/INF)