BREBES – Ambruknya Jembatan Kalibuntu yang terletak di Desa Cilibur, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, membawa dampak serius bagi mobilitas masyarakat setempat. Infrastruktur vital yang menjadi urat nadi penghubung antarwilayah tersebut kini tak lagi bisa dilalui, menyebabkan warga kesulitan menjalankan aktivitas ekonomi maupun pendidikan.

Hingga Jumat (03/04/2026), kondisi jembatan yang mengalami kerusakan parah akibat terjangan arus sungai pasca-hujan deras beberapa waktu lalu belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan permanen. Hal ini memicu kekhawatiran warga akan isolasi wilayah yang berkepanjangan.

Ekonomi Warga Terhimpit

Jembatan Kalibuntu merupakan jalur utama bagi para petani dan pedagang di Desa Cilibur untuk mendistribusikan hasil bumi ke pusat pasar di Kecamatan Paguyangan maupun Bumiayu. Dengan terputusnya jembatan ini, biaya transportasi membengkak karena warga harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh dengan kondisi jalan yang tidak memadai.

“Kami sangat kesulitan membawa hasil panen ke pasar. Kalau lewat jalur lain, jaraknya jadi berkali-kali lipat lebih jauh dan ongkos angkutnya jadi mahal,” keluh salah satu warga setempat.

Pendidikan Anak-Anak Terancam

Selain sektor ekonomi, dampak paling terasa adalah pada akses pendidikan. Banyak siswa dari Desa Cilibur yang bersekolah di luar desa harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai atau memutar jalan yang sangat jauh demi mencapai sekolah.

Kondisi ini sangat riskan, terutama saat debit air sungai meningkat. Orang tua siswa mengaku was-was melepaskan anak-anak mereka berangkat sekolah dalam kondisi jembatan yang ambruk total tersebut.

Menanti Respons Pemerintah

Pemerintah Desa Cilibur dilaporkan telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Brebes melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk segera melakukan penanganan darurat. Warga berharap adanya pembangunan jembatan darurat (bailey) atau percepatan renovasi permanen agar aktivitas harian mereka tidak terus terganggu.

“Kami sangat berharap pemerintah segera bertindak. Jembatan ini bukan sekadar bangunan, tapi nyawa bagi ekonomi dan pendidikan anak-anak kami di Cilibur,” tegas tokoh masyarakat desa.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih berupaya membuat titian kayu sementara yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dengan sangat hati-hati, sembari menunggu langkah nyata dari otoritas terkait.

Pewarta: Dedi Djunaedi