POJOKDAILYMahkamah Agung Arab Saudi secara resmi mengumumkan bahwa Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, setelah hasil pemantauan menunjukkan hilal Syawal tidak terlihat. Dengan keputusan tersebut, bulan Ramadan di Arab Saudi digenapkan menjadi 30 hari.

Keputusan ini langsung menjadi perhatian luas umat Muslim dunia, mengingat Arab Saudi kerap menjadi salah satu rujukan penting dalam penetapan awal bulan Hijriah, khususnya menjelang Hari Raya Idulfitri. Selain Arab Saudi, sejumlah negara di kawasan Teluk juga dilaporkan menetapkan Idulfitri pada hari yang sama, yakni Jumat, 20 Maret 2026.

Hilal Syawal Tidak Terlihat, Ramadan Digenapkan 30 Hari

Berdasarkan laporan yang beredar dari media-media internasional dan nasional, pemantauan hilal untuk penentuan awal Syawal dilakukan pada malam 29 Ramadan 1447 H. Namun, hilal atau bulan sabit muda Syawal tidak berhasil terlihat, sehingga otoritas keagamaan di Arab Saudi menetapkan bahwa Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari.

Dengan demikian, umat Muslim di Arab Saudi akan menyempurnakan puasa Ramadan sehari penuh, sebelum merayakan Idulfitri keesokan harinya pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini sekaligus mengakhiri berbagai spekulasi terkait kemungkinan Lebaran jatuh pada Kamis atau Jumat.

Mahkamah Agung Arab Saudi Jadi Rujukan Penting

Pengumuman resmi dari Mahkamah Agung Arab Saudi selalu menjadi sorotan karena negara tersebut memiliki pengaruh besar dalam kalender keagamaan umat Islam, terutama di kawasan Timur Tengah. Tidak sedikit negara yang menjadikan hasil rukyat di Arab Saudi sebagai salah satu pertimbangan penting dalam penetapan awal Syawal.

Karena itu, keputusan Idulfitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 langsung memicu perhatian publik, termasuk di Indonesia, yang saat ini masih menunggu keputusan resmi pemerintah melalui mekanisme sidang isbat.

Indonesia Masih Menunggu Sidang Isbat

Meski Arab Saudi sudah lebih dulu mengumumkan penetapan 1 Syawal 1447 H, pemerintah Indonesia tetap memiliki mekanisme sendiri dalam menentukan awal bulan Hijriah, yakni melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama dengan mempertimbangkan hasil hisab dan rukyatul hilal.

Artinya, keputusan Arab Saudi tidak otomatis menjadi penetapan resmi di Indonesia. Meski demikian, kabar dari Arab Saudi tetap menjadi salah satu informasi penting yang banyak dinanti masyarakat, terutama untuk melihat potensi kesamaan hari Lebaran di sejumlah negara Muslim.

Muhammadiyah Sebelumnya Sudah Tetapkan 20 Maret 2026

Sebelum pengumuman dari Arab Saudi, Muhammadiyah lebih dulu menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 melalui metode hisab yang digunakan organisasi tersebut. Penetapan ini tertuang dalam maklumat resmi dan telah diumumkan beberapa hari sebelumnya.

Dengan demikian, keputusan Arab Saudi pada Jumat, 20 Maret 2026, memperkuat kemungkinan adanya kesamaan perayaan Idulfitri di sejumlah negara, meski penetapan resmi di Indonesia tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah.

Momentum yang Dinanti Umat Muslim Dunia

Penetapan Idulfitri selalu menjadi momen yang sangat dinanti umat Muslim di seluruh dunia. Selain menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, Hari Raya Idulfitri juga menjadi momentum penting untuk berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi, dan mempererat ukhuwah.

Karena itu, pengumuman resmi dari Arab Saudi mengenai Idulfitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 menjadi salah satu kabar besar yang langsung menyita perhatian publik, terutama di tengah antusiasme masyarakat menyambut Lebaran tahun ini.

Penutup

Dengan hasil rukyat yang menyatakan hilal Syawal tidak terlihat, Mahkamah Agung Arab Saudi resmi menetapkan bahwa Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, dan bulan Ramadan di negara tersebut digenapkan menjadi 30 hari.

Sementara itu, masyarakat Indonesia masih menantikan keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat. Meski demikian, penetapan Arab Saudi ini sudah menjadi sinyal kuat bahwa Lebaran 2026 berpotensi dirayakan serentak di sejumlah negara Muslim.