oleh

OPINI: Jateng “Provinsi Tambal Sulam”, Saat Aspal Jabar Sudah “Glow Up” Tapi Kita Masih Gali Lubang Tutup Lubang

banner 468x60

OPINI – Sudah menjadi rahasia umum—dan kini menjadi bahan tertawaan getir di media sosial—bahwa roda kendaraan Anda bisa mendeteksi kapan ia keluar dari Jawa Barat dan masuk ke Jawa Tengah tanpa perlu melihat papan penunjuk jalan. Cukup rasakan saja: jika guncangan mulai menghantam shockbreaker dan bunyi jedag-jeduk mulai terdengar, selamat datang di Jawa Tengah.

Sindiran netizen yang membandingkan infrastruktur jalan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat bukan lagi sekadar bumbu obrolan kopi, melainkan tamparan keras bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kontrasnya begitu menyakitkan. Di saat tetangga sebelah sudah bicara soal rekonstruksi beton berkualitas dan estetika gapura perbatasan, kita di sini masih berkutat dengan ritual kuno: tambal sulam.

banner 336x280

Kebijakan “Asal Bapak Senang” (ABS)?

Mengapa Pemprov Jateng seolah hobi memelihara jalan rusak? Strategi tambal sulam yang selama ini diandalkan tak lebih dari sekadar kosmetik murahan. Aspal disiram, diratakan, lalu seminggu kemudian hancur diterjang hujan, berubah menjadi jebakan maut bagi pengendara. Ini bukan pembangunan, ini adalah pemborosan anggaran yang dibungkus dengan narasi “pemeliharaan”.

Baca Juga  Tragedi Anak di NTT Jadi Tamparan Keras Sistem Pendidikan Indonesia

Netizen tak buta. Mereka melihat bagaimana Jawa Barat melakukan rekonstruksi total. Jalan bukan hanya diperbaiki, tapi dibangun baru dengan spesifikasi yang tahan lama. Sementara di Jateng, masyarakat dipaksa bersabar dengan dalih keterbatasan anggaran, padahal nyatanya jalanan yang rusak berulang kali justru menelan biaya lebih mahal dalam jangka panjang.

Kegelapan dan Gapura Kumuh

Perbandingan ini semakin jomplang jika kita bicara soal penerangan jalan dan estetika. Masuk ke wilayah Jawa Barat, kita disambut gapura megah yang merepresentasikan martabat sebuah provinsi, lengkap dengan lampu jalan yang terang benderang.

Begitu melintasi garis batas ke Jawa Tengah, suasana langsung berubah suram. Minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU) membuat jalur-jalur utama di Jateng tak ubahnya jalur uji nyali yang mematikan. Gapura perbatasan kita? Seringkali terlihat kusam, tak terawat, dan seolah berbisik kepada pelintas: “Sabar ya, ini Jawa Tengah.”

Baca Juga  Analisis Politik: Langkah Catur 'Silent Warrior' Prabowo di Papan Geopolitik Dunia

Berhenti Membela Diri, Mulailah Membangun

Pemprov Jateng harus berhenti memberikan alasan-alasan klise. Rakyat tidak butuh statistik atau laporan di atas kertas yang mengklaim persentase jalan mantap jika kenyataan di lapangan berkata sebaliknya. Rakyat butuh aspal yang tidak “hamil” dan berlubang setiap kali musim hujan tiba.

Jika Jawa Barat bisa melakukan transformasi infrastruktur hingga ke pelosok, mengapa Jawa Tengah hanya bisa menonton? Jangan biarkan slogan “Jateng Gayeng” berubah menjadi “Jateng Oleng” karena jalanannya yang tak kunjung mulus.

Sudah saatnya gubernur dan dinas terkait keluar dari zona nyaman “tambal sulam” dan mulai belajar dari tetangga sebelah. Martabat sebuah provinsi tercermin dari halusnya aspal yang dipijak rakyatnya, bukan dari seberapa banyak lubang yang berhasil ditutup sementara.

Opini Oleh: Armin

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *