PALANGKA RAYA – Dunia pers di Kalimantan Tengah kembali dihadapkan pada ancaman nyata terhadap kebebasan berpendapat. Seorang jurnalis lokal bernama Budi Baskoro mengaku telah menerima pesan ancaman berupa penyiraman air keras dari orang tidak dikenal setelah dirinya mengunggah ajakan untuk menonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul Pesta Babi di media sosial.

Intimidasi tersebut memicu kekhawatiran karena menyasar keselamatan pribadi jurnalis di tengah upaya menyebarkan ruang diskusi publik.

Pola Intimidasi dan Kaitannya dengan Kasus Masa Lalu

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, ancaman kekerasan tersebut dikirimkan oleh pelaku secara langsung melalui pesan singkat pada aplikasi WhatsApp.

  • Psikologis Pelaku: Dalam pesan bernada teror tersebut, pelaku sengaja mengaitkan posisi Budi Baskoro dengan insiden tragis penyiraman air keras yang pernah menimpa aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Andrie Yunus.

  • Upaya Pembungkaman: Budi Baskoro menilai tindakan teror digital ini sebagai bentuk intimidasi terstruktur serta upaya nyata untuk membungkam hak kebebasan berekspresi dan kemerdekaan pers di wilayah Kalimantan Tengah.

Agenda Pemutaran Film Tetap Berjalan

Meski dibayangi oleh ancaman kekerasan fisik yang dialami Budi, agenda pemutaran dan diskusi film dokumenter tersebut dilaporkan telah berhasil dilaksanakan.

Kegiatan nobar yang diinisiasi oleh komunitas pers mahasiswa di Kabupaten Kotawaringin Barat dikonfirmasi berlangsung secara aman dan kondusif tanpa adanya gangguan ataupun intimidasi di lokasi acara.

Hingga saat ini, komunitas pers dan organisasi profesi jurnalis terus memantau perkembangan situasi guna memastikan adanya perlindungan hukum serta keamanan fisik bagi Budi Baskoro dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya ke depan. (RED/KTNG)