Oleh: Mas Djunaedy, S.HUT (Ketum KPLH Bumi Sang Ratu Banjarharjo, Brebes)

Ketika bencana silih berganti melanda negeri, hati kita tersesak pilu. Banjir, longsor, hingga tanah bergerak seolah bertubi-tubi menyapa, meninggalkan duka mendalam bagi saudara-saudara kita yang kehilangan harta, benda, bahkan nyawa. Namun, di balik doa agar mereka diberi ketabahan, terselip sebuah pertanyaan besar: Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada alam kita?

Mungkin judul di atas—meminjam lirik legendaris Ebiet G. Ade—adalah jawaban paling puitis sekaligus getir untuk menggambarkan kondisi saat ini.

Fenomena “Hulu yang Berdarah”

Jika dulu bencana dianggap sebagai “langganan” daerah tertentu karena faktor geografis, kini spektrumnya meluas di luar prediksi. Banjir dan longsor justru makin sering terjadi di daerah hulu yang sebelumnya dianggap aman. Pegunungan yang dari jauh nampak hijau royo-royo, ternyata menyimpan kerentanan yang dahsyat.

Daerah penyangga yang seharusnya menjadi kawasan lindung, resapan air, dan gudang plasma nutfah, kini kondisinya kian parah. Hujan lebat dalam hitungan jam saja sudah cukup untuk memicu “amuk” alam. Mengapa? Karena bentang alam kita telah diperkosa oleh kepentingan sesaat.

Keserakahan dan Alih Fungsi Lahan

Alam tak pernah berbohong. Hijau di permukaan seringkali menutupi luka di dalamnya. Pemicunya klasik namun kronis: keserakahan. Hutan lindung dan daerah konservasi dijadikan objek investasi oleh pemodal besar untuk membuka lahan sayuran seluas-luasnya.

Masyarakat sekitar hutan yang dulu arif dan bijaksana, kini tergiur iming-iming materi. Mereka diajak untuk membabat pohon utama, membakar tumbuhan bawah, dan merubah kontur tanah tanpa mempedulikan dampak jangka panjang. Padahal, tumbuhan bawah itulah yang menabung air hujan. Tanpa mereka, air hanya akan menggerus unsur hara dan menciptakan bencana bagi warga di hilir.

Transformasi Pemangku Hutan

Tantangan berat juga dihadapi oleh birokrasi pemangku hutan. Budaya feodal sisa zaman kolonial harus benar-benar dikubur. Sosok “Penguasa Hutan” harus bertransformasi menjadi “Mitra Sejajar” bagi masyarakat melalui program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).

Meski program penghijauan, rehabilitasi, dan pengawasan dilakukan setiap tahun dengan anggaran yang tidak sedikit, kenyataan di lapangan berbicara lain. Penyakit kronis pembalakan liar dan perusakan alam memerlukan tindakan tegas, bukan sekadar seremonial tanam pohon. Polisi Hutan, Mantri, hingga Mandor harus tetap tahan banting di tengah arus kepentingan pemodal yang kuat.

Menutup Luka, Menjaga Warisan

Inilah pertanyaan kritis kita bersama: Mengapa saat pengelolaan hutan digalakkan setiap tahun, bencana justru makin meningkat?

Jawabannya kembali pada kita. Sejauh mana kita bijaksana melihat aktivitas sendiri? Alam akan menjaga kita jika kita menjaganya. Menanam pohon bukan sekadar urusan seremonial, tapi urusan menjaga kehidupan dan mewariskan hutan yang sehat bagi anak cucu.

Mari berbuat sesuatu, meski kecil dan tak terlihat. Agar alam kembali tersenyum, agar bumi kembali hijau, dan agar Indonesia tetap lestari. Karena jika tidak sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?

Lestari Alamku, Lestari Indonesiaku.