
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menggelar acara buka puasa bersama (bukber) dengan jajaran ulama dan pimpinan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam di Istana Merdeka, Jakarta. Pertemuan yang berlangsung hangat ini menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk mengklarifikasi langkah diplomasi internasional Indonesia, khususnya terkait keterlibatan dalam Board of Peace (BoP).
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya sinergi antara ulama dan umara (pemerintah) dalam menjaga stabilitas nasional dan memahami posisi Indonesia di kancah global.
Klarifikasi Terkait Board of Peace (BoP)
Poin utama yang menjadi sorotan dalam pertemuan tersebut adalah penjelasan Presiden mengenai keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian. Langkah ini sempat menjadi diskursus di ruang publik, dan Presiden merasa perlu memberikan konteks utuh kepada para tokoh agama.
Presiden Prabowo menjelaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam BoP murni merupakan langkah strategis untuk memperkuat peran Indonesia sebagai mediator perdamaian dunia.
“Indonesia harus berada di meja perundingan. Dengan bergabung di BoP, kita memiliki akses langsung untuk menekan penghentian kekerasan di zona konflik, terutama mempercepat bantuan kemanusiaan dan mendorong kemerdekaan Palestina secara lebih sistematis,” ujar Presiden di hadapan para tokoh ormas.

Respons Tokoh Ulama
Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh besar, di antaranya perwakilan dari PBNU, Muhammadiyah, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI). Para pemimpin ormas Islam mengapresiasi langkah transparansi yang dilakukan Presiden.
Setelah mendengar penjelasan langsung, para tokoh ulama menyatakan dukungannya selama kebijakan tersebut tetap berpegang teguh pada amanat konstitusi untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia dan tidak mengorbankan kedaulatan bangsa.
Komitmen Kemanusiaan dan Persatuan
Selain membahas BoP, pertemuan ini juga menyentuh isu-isu domestik, mulai dari kesiapan pemerintah menghadapi mudik Lebaran 2026 hingga upaya berkelanjutan dalam pemberantasan korupsi. Presiden mengajak para ulama untuk terus menyejukkan suasana di tengah masyarakat, terutama saat dinamika geopolitik global sedang memanas.
Pertemuan diakhiri dengan salat Maghrib berjamaah dan ramah tamah. Langkah proaktif Presiden ini dinilai sebagai upaya efektif untuk meredam potensi misinformasi terkait kebijakan luar negeri pemerintah di kalangan umat Islam.









Tinggalkan Balasan