BOGOR – Presiden Prabowo Subianto menunjukkan sikap tanpa kompromi terhadap aksi kekerasan yang menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus. Dalam sesi tanya jawab di kediamannya di Hambalang, Kamis (19/3/2026), Presiden dengan nada tegas mengutuk keras aksi penyiraman air keras tersebut dan melabelinya sebagai tindakan terorisme.

“Ini adalah terorisme! Ini tindakan biadab. Harus kita kejar, harus kita usut!” tegas Prabowo di hadapan para jurnalis senior dan pakar.

Bukan Sekadar Kriminal Biasa

Bagi Prabowo, serangan terhadap aktivis bukan hanya sekadar tindak pidana penganiayaan, melainkan serangan terhadap demokrasi dan kemanusiaan. Ia menekankan bahwa penegakan hukum tidak boleh hanya berhenti pada eksekutor di lapangan, tetapi harus mampu menyeret dalang utama ke balik jeruji besi.

“Siapa yang menyuruh? Siapa yang membayar? Saya minta diusut benar sampai ke aktornya,” imbuhnya. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bagi aparat penegak hukum bahwa tidak ada ruang bagi dalang kejahatan untuk bersembunyi.

Jaminan Tanpa Impunitas: Libatkan TNI dan Polri

Kasus yang mengakibatkan Andrie Yunus mengalami luka bakar serius sebesar 24% ini telah memasuki babak baru. Empat oknum prajurit TNI—terdiri dari tiga perwira dan satu bintara—telah diamankan oleh Polri bekerja sama dengan Puspom TNI.

Menanggapi keterlibatan aparat, Prabowo memberikan jaminan penuh bahwa proses hukum akan berjalan transparan dan tanpa pandang bulu.

“Tidak akan ada impunitas! Saya menjamin itu. Saya ingin menegakkan hukum. Saya ingin Indonesia yang beradab,” ujar Presiden dengan mantap.

Membela Rakyat, Menjaga Demokrasi

Prabowo mengingatkan kembali mandat yang ia terima dari rakyat untuk menciptakan rasa aman. Baginya, keselamatan setiap warga negara, termasuk para aktivis yang kritis, adalah prioritas utama. Komitmen ini kini tengah diuji melalui pengungkapan tuntas kasus Andrie Yunus yang tengah ditangani oleh tim gabungan.

Publik kini menanti, sejauh mana instruksi presiden ini akan diterjemahkan menjadi tindakan nyata oleh aparat untuk membongkar jejaring aktor intelektual di balik “teror air keras” ini.