JAKARTA — Nama Thomas Djiwandono resmi masuk lingkar inti Bank Indonesia. Usai disetujui DPR dalam rapat paripurna di Gedung Parlemen Senayan, Selasa (27/1/2026), Thomas menegaskan satu janji utama: independensi Bank Indonesia tetap harga mati.

Di hadapan awak media, Thomas menepis keraguan publik soal tarik-menarik kepentingan politik dan kebijakan moneter. Ia menegaskan seluruh proses yang dilaluinya berjalan sesuai aturan main.

“Saya mengikuti fit and proper test sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Sekali lagi saya tegaskan komitmen saya untuk menjaga independensi bank sentral,” kata Thomas.

Penunjukan Thomas untuk mengisi posisi strategis yang ditinggalkan Juda Agung itu melalui serangkaian uji kelayakan di Komisi XI DPR. Dari ruang rapat itu pula, Thomas memaparkan arah kebijakan yang akan ia dorong ke depan.

Ia menyebut konsep “GERAK” sebagai fondasi penyelarasan kebijakan fiskal dan moneter. Lima strategi itu mencakup Governance, Efektivitas kebijakan, Resiliensi sistem keuangan, Akselerasi sinergi fiskal-moneter, serta Keberlanjutan transformasi keuangan.

Menurut Thomas, tata kelola atau governance menjadi pondasi utama. Ia mengingatkan bahwa independensi Bank Indonesia bukan barang baru, melainkan mandat undang-undang sejak 1999.

“Governance adalah fondasi. Aturan tentang independensi BI sudah sangat jelas dan harus dijaga,” tegasnya.

Lebih jauh, Thomas menilai sinergi antarotoritas menjadi kunci agar ekonomi nasional bisa berlari lebih kencang. Bukan hanya antara fiskal dan moneter, tapi juga dengan otoritas sektor keuangan lainnya.

“Pengelola kebijakan harus bersinergi. Target pertumbuhan ekonomi yang kita canangkan bersama adalah jalan agar Indonesia bisa maju,” ujarnya.

Meski mengusung akselerasi, Thomas memastikan seluruh strategi tersebut tetap berada dalam koridor kehati-hatian. Independensi BI, kata dia, tidak akan dikorbankan demi kepentingan jangka pendek.

Pada akhirnya, Thomas menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi harus dicapai secara inklusif dan berkelanjutan. Semua mesin pertumbuhan fiskal, moneter, sektor keuangan, hingga iklim investasi harus bergerak serempak.

Ia optimistis, pendekatan itu akan mendorong sektor bernilai tambah tinggi, sektor padat karya, serta sektor yang tahan guncangan agar tumbuh selaras dan memberi efek berlapis bagi perekonomian nasional.