
JAKARTA — Kegaduhan soal dugaan es gabus berbahan spons yang viral di media sosial akhirnya berujung permintaan maaf. Seorang anggota Polri dan anggota TNI Angkatan Darat mengakui kekeliruan mereka setelah sempat menuding seorang pedagang kecil di Kemayoran, Jakarta Pusat, menjual makanan berbahaya.
Keduanya adalah Bhabinkamtibmas Kelurahan Rawa Selatan, Aiptu Ikhwan Mulyadi, serta Babinsa Kelurahan Utan Panjang, Serda Heri Purnomo. Permintaan maaf disampaikan melalui video berdurasi sekitar empat menit yang dirilis Polres Metro Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas kegaduhan yang timbul akibat video yang sempat beredar luas di media sosial,” ujar Aiptu Ikhwan dalam rekaman tersebut.
Ikhwan menjelaskan, tindakan yang ia lakukan bersama Serda Heri merupakan respons atas laporan warga yang khawatir akan adanya dugaan peredaran makanan berbahaya di lingkungan mereka. Sebagai aparat kewilayahan, kata dia, mereka berkewajiban merespons setiap aduan masyarakat.
“Niat kami semata-mata untuk mengedukasi agar tidak ada konsumen yang dirugikan dan memastikan masyarakat merasa aman,” ucapnya.

Namun demikian, Ikhwan mengakui dirinya telah menarik kesimpulan terlalu cepat tanpa menunggu hasil pemeriksaan ilmiah dari instansi berwenang, seperti Dinas Kesehatan DKI Jakarta, kedokteran kepolisian, maupun Laboratorium Forensik Polri.
“Seharusnya kami melakukan klarifikasi dan verifikasi terlebih dahulu. Atas kekeliruan tersebut, kami memohon maaf yang sedalam-dalamnya, khususnya kepada Bapak Suderajat,” katanya.
Ikhwan menegaskan tidak ada maksud untuk merugikan atau mencemarkan nama baik Suderajat, pedagang es gabus yang terdampak langsung akibat viralnya video tersebut. Ia juga menyadari kabar itu berdampak serius terhadap usaha dan kehidupan pedagang kecil.
“Kami memohon maaf kepada masyarakat apabila video tersebut menimbulkan keresahan atau sentimen negatif terhadap institusi kami,” ujar Ikhwan, seraya berjanji akan lebih berhati-hati dan mengedepankan prosedur ke depan.
Dalam video permintaan maaf itu, Aiptu Ikhwan menyampaikan pernyataan secara lisan, sementara Serda Heri tampak mendampingi. Kapolsek Johar Baru dan Danramil Kemayoran juga hadir mendampingi kedua anggota tersebut.
Sementara itu, Suderajat mengaku es gabus yang ia jual berasal dari pabrik es gabus di kawasan Depok. Ia memilih berjualan di Jakarta karena dinilai lebih menjanjikan. Dalam sehari, ia bisa meraup pendapatan Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.
Namun sejak peristiwa tersebut, Suderajat memutuskan berhenti berjualan es gabus. Ia mengaku trauma dan khawatir akan keselamatannya.
“Kapok saya. Takutnya saya ditimpuk pakai batu gede,” ujar Suderajat.
Kini, ia memilih banting setir dengan berjualan gorengan di sekitar rumahnya. “Mau jualan goreng-gorengan saja,” katanya.
Peristiwa yang menimpa Suderajat memantik simpati publik. Bantuan dan dukungan datang dari berbagai pihak, mulai dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Pemerintah Kabupaten Bogor, hingga Kepolisian Republik Indonesia.









Tinggalkan Balasan