LUMAJANG – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut dilaporkan mengalami erupsi yang disertai dengan peluncuran awan panas guguran (APG) dengan jarak luncur mencapai 6 kilometer ke arah sektor tenggara.

Kejadian ini memicu kewaspadaan tinggi bagi masyarakat yang tinggal di lereng gunung, terutama yang berada di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru.

Berdasarkan laporan dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru, awan panas terpantau meluncur dengan intensitas tebal. Jarak luncur sejauh 6 kilometer tersebut mengarah ke wilayah Besuk Kobokan. Selain awan panas, kolom abu vulkanik juga terlihat membubung tinggi, menyebarkan material abu ke arah beberapa desa di sekitarnya.

Pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas seismik yang didominasi oleh gempa letusan, gempa guguran, dan gempa hembusan yang masih terjadi secara fluktuatif.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengimbau warga agar tetap tenang namun meningkatkan kesiapsiagaan. Pihaknya telah mengerahkan tim reaksi cepat untuk memantau pemukiman terdekat dari zona merah.

“Kami meminta masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak. Di luar jarak tersebut, masyarakat juga dilarang beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai karena adanya potensi perluasan awan panas dan aliran lahar,” tegas narasumber dari pihak BPBD.

Selain itu, warga diingatkan untuk mewaspadai potensi lahar dingin mengingat curah hujan di wilayah puncak masih cukup tinggi, yang dapat membawa material vulkanik sisa erupsi ke hilir sungai.

Hingga saat ini, status Gunung Semeru masih berada pada level yang memerlukan pengawasan ketat. Masyarakat dilarang keras memasuki radius 5 kilometer dari kawah atau puncak gunung karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.

Para pendaki dan wisatawan juga diminta untuk mematuhi rekomendasi dari PVMBG dan tidak memaksakan diri mendekati area terlarang. Petugas di lapangan terus berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk memastikan jalur evakuasi tetap dalam kondisi siap pakai jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas yang lebih besar.

Pemerintah daerah juga mengimbau warga untuk selalu menggunakan masker jika terjadi hujan abu guna menghindari gangguan pernapasan serta tetap memantau informasi resmi dari kanal informasi pemerintah dan PVMBG untuk menghindari berita bohong atau hoaks yang beredar.